#DropdownMenu { background:#ff6803; border-radius:6px; width: 880px; height: 35px; font-size: 12px; font-family: Arial, Tahoma, Verdana; color:#FFFFFF; font-weight: bold; margin-bottom: 30px; padding: 2px; } #Dropdownbox { width: 875px; border-radius:6px; float: left; margin: 0; padding: 0; } #strike { border-radius:6px; margin: 0; padding: 0; } #strike ul { border-radius:6px; float: left; list-style: none; margin: 0; padding: 0; } #strike li { border-radius:6px; list-style: none; margin: 0; padding: 0; } #strike li a, #strike li a:link, #strike li a:visited { border-radius:6px; color:#FFFFFF; display: block; font-size: 16px; font-family: Georgia, Times New Roman; font-weight: normal; margin: 0; padding: 9px 15px 8px; } #strike li a:hover, #strike li a:active { border-radius:6px; background:#FFFFFF; color:#ff6803; margin: 0; padding: 9px 15px 8px; text-decoration: none; } #strike li li a, #strike li li a:link, #strike li li a:visited { border-radius:6px; background:#ff6803; width: 150px; color:#FFFFFF; font-size: 14px; font-family: Georgia, Times New Roman; font-weight: normal; float: none; margin: 0; padding: 7px 10px; border-bottom: 1px solid #FFF; border-left: 1px solid #FFF; border-right: 1px solid #FFF; } #strike li li a:hover, #strike li li a:active { border-radius:6px; background:#FFFFFF; color:#ff6803; padding: 7px 10px; } #strike li { border-radius:6px; float: left; padding: 0; } #strike li ul { border-radius:6px; z-index: 9999; position: absolute; left: -999em; height: auto; width: 170px; margin: 0; padding: 0; } #strike li ul a { border-radius:6px; width: 140px; } #strike li ul ul { border-radius:6px; margin: -32px 0 0 171px; } #strike li:hover ul ul, #strike li:hover ul ul ul, #strike li.sfhover ul ul, #strike li.sfhover ul ul ul { border-radius:6px; left: -999em; } #strike li:hover ul, #strike li li:hover ul, #strike li li li:hover ul, #strike li.sfhover ul, #strike li li.sfhover ul, #strike li li li.sfhover ul { border-radius:6px; left: auto; } #strike li:hover, #strike li.sfhover { border-radius:6px; position: static; }

25 April 2008

Pelit?

Ya, boleh dijawab sesukanya, deh. Lagian saya tak ada data yang pasti untuk menyatakan 'seberapa banyak' yang pelit.
Saya hanya merasakannya dari diri saya sendiri dulu..

Yap, begitulah..

Masih bisa saya rasakan, sebagian dari diri saya seperti berbisik untuk berpikir ulang ketika akan menyerahkan begitu saja uang 5.000 ke kotak infaq. Rasanya berat sekali melepasnya..
Tapi lihatlah ketika berada di supermarket, warnet, ato tempat-tempat konsumtif lainnya. Rasanya ringan sekali mengeluarkan uang 10.000, 20.000, 50.000...

Sepertinya kita masih saja bermasalah dalam berhitung dengan Allah, Sang Maha Pengatur Rezeqi terhebat, Sang Penjamin Rezeqi setiap makhluk di muka bumi ini (bahkan cecak pun bisa menangkap nyamuk tanpa perlu obat nyamuk.. karena Allah telah Mengaturnya...)

Atau kita masih tidak tahu ke mana uang kita di kotak amal itu akan pergi?

Sayang sekali, tetapi Islam sama sekali tidak memiliki suatu badan tertinggi di mana uang kita berkumpul menjadi satu. Semua uang kita harus segera keluar menuju yang berhak. Uang kita tidak untuk Allah, uang kita untuk mereka, yang betul-betul membutuhkan.

Allah tidak memerlukan uang kita, tetapi Allah merindukan keikhlasan kita...

Mari kita terus belajar.. Perubahan adalah sebuah proses...

14 April 2008

Karakter Lelaki

Sudah jadi karakternya lelaki untuk memiliki hawa nafsu yang lebih besar daripada wanita.. (Normalnya begitu...) Oleh karena itu, mereka jauh lebih gampang tersulut kemarahannya dibandingkan wanita yang (normalnya lagi..) punya watak keibuan yang sabar..

Sayangnya, para lelaki (berarti termasuk saya) masih sulit mengontrolnya, terutama ketika bergaul dengan lawan jenis. Kehidupan sehari-hari sudah menyatakan begitu. Karena tidak punya ilmu agama yang baik, yang satu gemar memberi umpan, yang satu lagi getol menyambar umpan itu.

QS. An Nuur: 30. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".

Dan karena itu, Islam memberi batas untuk para laki-laki, bahwa

"Apa-apa yang berada di antara pusar dan lutut adalah aurat"

(Hadits hasan riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Daraquthni) dan ini merupakan pendapat jumhur ulama.

Walaupun laki-laki sedang bersama laki-laki, dan wanita sedang bersama wanita, tetapi Islam menganjurkan

"Janganlah seorang lelaki melihat aurat lelaki lainnya dan janganlah juga seorang wanita melihat aurat wanita lainnya."

(H.R Muslim)

Salah satu penyebab munculnya gay dan lesbian adalah karena anjuran di atas diabaikan...

Mata memang harus dipakai sewaktu berjalan dan berkendara, biar sampai ke tujuan dengan selamat. Tetapi seringkali mata kita tanpa bisa kita cegah terpaksa menubruk ke berbagai macam makhluk, termasuk makhluk terindah di mata lelaki.. Dan bahaya mata ini sangatlah besar jika tidak dikendalikan...

Rasulullah bersabda: “Janganlah kamu ikuti pandangan (pertama) itu dengan pandangan (berikutnya). Pandangan (pertama) itu boleh buat kamu, tapi tidak dengan pandangan selanjutnya.”

Dan di dalam Musnad Imam Ahmad, diriwayatkan dari Rasulullah : “Pandangan itu adalah panah beracun dari panah-panah iblis. Maka barangsiapa yang memalingkan pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai pada hari Kiamat.” Inilah kurang lebih makna hadits tersebut.

QS. Yusuf: 53. Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Islam adalah seperangkat perlengkapan untuk hidup, mulai dari bangun tidur, makan, menikah, bahkan masuk WC pun ada manual handbook-nya. Muslim yang baik tidak akan melewatkan satu halaman pun dari ajaran komplet ini..

QS. Al Jatsiyah: 18. Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.

Ini adalah peringatan bagi diri saya sendiri, dan juga teman-teman sekalian..

08 March 2008

A Poem of an African (a fight for racism)


http://www.bebekrewel.com/african-poem/

--------------------------
When I born, I Black,

When I grow up, I Black,

When I go in Sun, I Black,

When I scared, I Black,

When I sick, I Black

And when I die, I still Black…

And you White fella,

When you born, you Pink,

When you grow up, you White,

When you go in sun, you Red,

When you cold, you Blue,

When you scared, you Yellow,

When you sick, you Green

And when you die, you Gray…



And you calling me Colored??
----------------------------

Aly El Shaly

23 February 2008

Psikologi Beragama


Semua orang yang tingkat agamanya baik, pasti kualitas hidupnya baik juga. Dan ini sifatnya mutlak!

Seandainya engkau berkata engkau mengenal seseorang yang agamanya baik tetapi hidupnya tidak, maka pasti ada yang salah. Masih mungkin agamanya belum sempurna betul, sehingga engkau mengatakan tidak melihat kebaikan dalam hidupnya. Atau mungkin engkau saja yang memandang hidupnya tidak baik, sementara ternyata sudah baik menurut orang itu (ini subyektivitas manusia). Berarti, tentukan dulu kriteria macam apa yang bisa membuatmu menyebut bahwa hidup seseorang itu baik (lagi-lagi subyektif).

Yang jelas, menurutku, kebahagiaan itulah kebaikan hidup seseorang. Dan kebahagiaan tidak bersifat lahiriah, sobat. Kebahagiaan yang sejati letaknya di dalam hati. Ketenteraman jiwa, ketenangan pikiran, kesejukan wajah, semuanya pasti akan terpancar oleh orang-orang yang bahagia.

Dengan kebahagiaan itu, orang akan kecipratan manfaat dari dirinya. Dengan kebahagiaan itu, nilai-nilai keindahan agamanya terserak ke segala penjuru. Dengan kebahagiaan itu, yakinlah, kebenaran akan terus ia bela sekuat mungkin, dan kejelekan akan tetap ia lawan sekeras mungkin.

Agama, kebenaran, kebahagiaan, carilah itu, kawan!

“Dengan cinta hidup ‘kan indah.

Dengan ilmu hidup ‘kan mudah.

Dengan agama hidup ‘kan terarah.”

Perkataan dari Mas Ghofur - seorang penjual martabak telur berbadan subur - yang ia tirukan secara sempurna dari neneknya. Kalau engkau ingin menemuinya, hendak berbincang dengannya, atau mencicipi rasa lezat martabaknya, pergilah ke Jalan Wonosari KM 7 di waktu petang. (Lho, jadi promosi...)

29 January 2008

Mengingat Mati


"Kita selalu lupa bahwa mati tidak pernah lupa pada kita."

"We always forget that the death never forget the us."

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imran: 145)

Kunjungan malaikat maut adalah satu hal yang pasti. Tak mungkin untuk dicegah, tak mungkin pula dipercepat kedatangannya. Apabila sudah datang ajalnya, tak mungkin lagi manusia itu bisa menolak walaupun berlindung di benteng terkuat sekalipun. Bahkan benteng itulah yang mungkin menjadi tempat terakhirnya untuk hidup.

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh,…” (QS An Nisa’: 78)

Dan apabila belum waktunya dijemput, seluruh dunia ini tidak akan mampu mematikan manusia. Sesungguhnya maut adalah urusan Allah, dan hanya akan menjemput manusia atas Izin-Nya semata.

Hidup di dunia hanyalah sebentar, sedangkan kampung akhirat, itulah tempat sebenarnya bagi manusia. Merugilah mereka yang tidak mau memanfaatkan dunia ini untuk bersiap pulang ke akhirat. Dunialah yang memanfaatkan mereka. Dunia telah menguasai mereka. Sementara itu, akhirat semakin jauh dari mereka. Menyebutnya bahkan mereka enggan. Setiap ada yang mengucap kata ‘mati’, segera saja mereka ‘menutup’ telinga mereka rapat-rapat.

Barang siapa yang menginginkan dunia, dan melupakan akhirat, maka Allah betul-betul akan Memberinya dunia dengan Mengambil bagian akhirat darinya. Ia mungkin akan memiliki banyak hal di dunia, namun takkan ada barang sedikit pun baginya kebahagiaan di akhirat. Sementara bagi mereka yang menginginkan akhirat, dan berusaha keras untuk memperolehnya, maka Allah akan Menyediakan bagian akhirat bagi mereka, dan Allah akan Memudahkan untuk mengambil bagian dunianya secara sempurna.

Kematian menjadi penutup pintu beramal. Kematian akan menyelesaikan urusan dunia, dan mengawali urusan akhirat. Kematian menjadi urusan kita sendiri, bukan teman kita, bukan adik kita, kakak kita, bukan pula urusan suami/istri kita, atau keluarga kita. Kitalah yang menjadi ‘penanggungjawab’ dalam kematian kita.

Ia datang untuk kita pribadi. Ia bisa datang kapan saja, di mana saja, dan pada saat apapun. Saat kita bekerja atau istirahat. Saat kita sakit atau sehat. Saat kita sedang berpunya atau tidak berpunya. Saat kita sedang di rumah atau dalam perjalanan. Saat kita sedang sholat atau menonton televisi. Saat kita bermaksiat atau beramal sholeh.

Ia tidak akan terpengaruh oleh tangis kita, kata-kata rengekan kita, atau karena teriakan dan rintihan kita. Tidak pula ia terpengaruh oleh harta kita. Baginya harta dunia itu tidak bernilai apa-apa dan tidak mampu menolak tujuan kedatangannya kepada kita. Ia hanya diutus oleh Allah, dan tidak berhak menunda-nunda kepulangan kita.

“Sering-seringlah mengingat pelenyap segala kenikmatan, yaitu kematian.” (HR At Tirmidzi dan yang lain.)

Ke Ciledug Naik Sinar Jaya di 2019

Minggu (7/7) lalu, saya berkesempatan menggunakan Sinar Jaya . Sepengetahuan saya, Sinar Jaya adalah salah satu perusahaan transportasi umum...