#DropdownMenu { background:#ff6803; border-radius:6px; width: 880px; height: 35px; font-size: 12px; font-family: Arial, Tahoma, Verdana; color:#FFFFFF; font-weight: bold; margin-bottom: 30px; padding: 2px; } #Dropdownbox { width: 875px; border-radius:6px; float: left; margin: 0; padding: 0; } #strike { border-radius:6px; margin: 0; padding: 0; } #strike ul { border-radius:6px; float: left; list-style: none; margin: 0; padding: 0; } #strike li { border-radius:6px; list-style: none; margin: 0; padding: 0; } #strike li a, #strike li a:link, #strike li a:visited { border-radius:6px; color:#FFFFFF; display: block; font-size: 16px; font-family: Georgia, Times New Roman; font-weight: normal; margin: 0; padding: 9px 15px 8px; } #strike li a:hover, #strike li a:active { border-radius:6px; background:#FFFFFF; color:#ff6803; margin: 0; padding: 9px 15px 8px; text-decoration: none; } #strike li li a, #strike li li a:link, #strike li li a:visited { border-radius:6px; background:#ff6803; width: 150px; color:#FFFFFF; font-size: 14px; font-family: Georgia, Times New Roman; font-weight: normal; float: none; margin: 0; padding: 7px 10px; border-bottom: 1px solid #FFF; border-left: 1px solid #FFF; border-right: 1px solid #FFF; } #strike li li a:hover, #strike li li a:active { border-radius:6px; background:#FFFFFF; color:#ff6803; padding: 7px 10px; } #strike li { border-radius:6px; float: left; padding: 0; } #strike li ul { border-radius:6px; z-index: 9999; position: absolute; left: -999em; height: auto; width: 170px; margin: 0; padding: 0; } #strike li ul a { border-radius:6px; width: 140px; } #strike li ul ul { border-radius:6px; margin: -32px 0 0 171px; } #strike li:hover ul ul, #strike li:hover ul ul ul, #strike li.sfhover ul ul, #strike li.sfhover ul ul ul { border-radius:6px; left: -999em; } #strike li:hover ul, #strike li li:hover ul, #strike li li li:hover ul, #strike li.sfhover ul, #strike li li.sfhover ul, #strike li li li.sfhover ul { border-radius:6px; left: auto; } #strike li:hover, #strike li.sfhover { border-radius:6px; position: static; }

22 February 2009

Wanita, dan Pria

Selalu, dan selalu, wanita menjadi sorotan bagi banyak manusia di muka bumi. Sebagai makhluk yang diistimewakan Allah, sungguh wanita paling pantas untuk mendapatkan perhatian. Justru ketika kita mengabaikan mereka, tidak memperdulikan apa yang mereka lakukan di muka bumi ini, maka saat itu kita seolah menganggap mereka benda mati, atau malah mungkin lebih buruk dari itu, benda mati yang diperjualbelikan.

Wanita dan pria adalah sama sebagai makhluk, diciptakan oleh Allah. Tapi sebagai manusia, mereka diciptakan berbeda satu dengan yang lain. Karakter jasmani dan rohani sudah ditakdirkan tidak sama. Wanita telah dimaklumkan sebagai makhluk yang indah, lembut, dan setiap titik tubuhnya memiliki nilai keindahan yang sangat tinggi, tidak hanya bagi setiap pria yang memandangnya, tapi bahkan manusia secara umum. Sebaliknya, pria lekat dengan kesan kuat, tegas, dan setiap titik tubuhnya tidak terlalu diperhatikan secara mendalam oleh lawan jenisnya.

Memperhatikan pria biasa dengan berbaju lengkap, rasanya berbeda dengan memperhatikan wanita biasa berbaju lengkap. Seorang pria, normalnya, akan tetap mudah terdorong untuk "berimajinasi" terhadap wanita biasa, dibandingkan seorang wanita yang menatap pria biasa, yang tidak akan terlalu menimbulkan minat untuk berimajinasi. Ini adalah salah satu karakter fitrah yang sudah ditetapkan secara abadi dalam penciptaan pria dan wanita. Itulah hikmah dari mengapa aurat wanita lebih menutup, karena memang ini mencegah wanita dari musibah besar, dari imajinasi pria-pria, yang mereka tak akan pernah tahu seperti apa buruknya.

Wanita, di satu sisi, diuji dengan hasrat untuk memperindah dan mempercantik diri. Di sisi lain, pria juga diciptakan sangat mudah tertarik dengan kecantikan seorang wanita. Maka, Islam menyelamatkan keduanya dengan aturan yang sangat indah, yang betul-betul penuh perhitungan, asli dari Pencipta manusia secara langsung. Aturan tentang aurat ini juga sebenarnya lebih sesuai dengan fitrah semua makhluk Allah yang dituntut untuk terus berketurunan. Hanya suami yang sah-lah yang boleh dijadikan sasaran kecantikan wanita. Di hadapan suami, wanita boleh menampilkan kecantikan sejatinya. Karena, kecantikan wanita dan kekuatan pria memang dijadikan Allah sebagai faktor pendukung mereka dalam berketurunan. Seandainya wanita tidak diciptakan untuk selalu tampak indah di hadapan pria, lalu dengan apa seorang pria bisa tertarik kepada wanita? Dengan apa manusia bisa lestari sampai sekarang, kalau bukan salah satunya karena wanita diciptakan cantik, dan pria mencintai kecantikan ini?

Wanita dan pria diciptakan seperti binatang yang memiliki nafsu biologis. Mereka bisa saja seperti ayam, yang bebas memilih pasangan, lalu "berbuat" semau mereka. Namun, Allah juga telah menanamkan rasa cinta, rasa cemburu, rasa sayang, rasa ingin memiliki, rasa malu, rasa bersosial, yang bedanya sungguh terasa dengan binatang. Ini yang kemudian Allah bungkus secara indah dalam aturan pernikahan. Seorang pria tak akan pernah rela wanita yang ia sayangi, cintai, atau bahkan hanya tingkat 'disukai', tiba-tiba begitu dekat dengan pria lain, begitu pula sebaliknya. Maka, hubungan antara dua manusia berlawanan jenis, selain pernikahan, sudah semestinya memang diharamkan karena hal-hal di atas tadi. Pernikahan membuat pria dan wanita saling terikat satu sama lain, sebagai komitmen mereka untuk saling mencintai, lebih luas lagi dalam kerangka beribadah kepada Allah.

Wanita dan pria adalah manusia yang tetap berbeda satu sama lain, diciptakan untuk saling bersama, melengkapi satu sama lain. Selain itu, mereka tetaplah sama sebagai makhluk Allah, yang diciptakan sangat rapuh dan lemah, sehingga butuh untuk beribadah kepada-Nya.

Sekiranya, dan sepertinya, penjelasan ini kurang memuaskan, bisa kita cari sendiri tambahannya melalui sumber-sumber lain yang lebih baik. Semoga bermanfaat...

Hasbunallah wa ni'mal wakiil..

09 February 2009

Hidup itu Keniscayaan, Berusaha adalah Pilihan

Sungguhpun Allah telah Membuat segalanya menjadi jelas bagi manusia, ternyata tetaplah sulit untuk menjalani hidup. Perlu begitu keras dalam usaha untuk mewujudkan hidup yang bahagia.

Di masa peralihan ini, diriku merasa berdiri di satu puncak gunung yang hanya bisa memuat dua tapak kaki kecilku saja, sedangkan angin menerpaku ke sana kemari. Aku lemah. Terombang-ambing. Tinggal menunggu waktu saja bagiku untuk jatuh. Dan aku harus berusaha untuk jatuh ke sisi yang tepat. Di bawah sana. Akankah?

Aku berada dalam bimbang. Sekarang usiaku baru (atau sudah) 22 tahun lebih sedikit. Sudah 4 tahun lebih aku kuliah. Skripsi sudah menunggu untuk dirampungkan. Kakak menunggu pertanggungjawabanku sebagai seorang anak yang berbakti kepada ibu. Kakakku tidak mau aku merepotkan ibu yang seorang diri terus menerus. Aku ingin cepat-cepat mandiri.

Di sisi lain, aku masih ingin menimba ilmu. Kecintaanku terhadap ilmu sungguh tak tertahankan. Bahkan aku sebenarnya telah berniat melanjutkan pendidikanku. Aku ingin menjadi seorang da'i, seperti almarhum bapak. Aku ingin mengubah keluargaku, teman-temanku. Dan untuk bisa mengubah mereka, aku harus mengubah diriku terlebih dulu. Itulah kenapa aku masih ingin nyantri lagi. Entah di pondok pesantren, atau kuliah jurusan agama.

Godaan untuk menikah pun sekarang mulai muncul, menyeruak menandingi keinginan kemandirianku. Aku ingin menyelamatkan diriku sendiri dari dunia ini. Aku tak mau pandanganku terus-terusan tertuju kepada hal-hal yang haram. Sesuatu harus dilakukan. Entah itu terhadap dunia ini, atau terhadap diriku yang melawan dunia. Aku tak punya kecenderungan terhadap seseorang. Aku hanya mencintai mereka yang mencintai Allah. Siapapun orangnya. Dia berhak menjadi pendampingku.

Suatu saat kematian menjemputku, aku ingin diriku telah menjadi 'seseorang' bagi dunia ini. Aku ingin setidaknya meninggalkan jejak bagi tanah tempat diri ini menginjakkan kaki. Aku ingin Allah menyambutku. Aku ingin berada dengan Muhammad shalallaahu 'alaihi wasallam. Karena, pada dasarnya aku telah berubah. Berubah menjadi lebih baik. Dan itu karena Allah dan Rasul-Nya.

Allah... Robbi habli hukmaw wa alhiqni bish sholihiin, waj 'allii lisaana sidqin fil aakhiriin, waj 'alnii miw warosati jannatin na'iim...

Hidup ini hanya sementara, dan kita akan kembali pada-Nya..

Tetaplah bertaqwa, Fadhli..

Ke Ciledug Naik Sinar Jaya di 2019

Minggu (7/7) lalu, saya berkesempatan menggunakan Sinar Jaya . Sepengetahuan saya, Sinar Jaya adalah salah satu perusahaan transportasi umum...