22 February 2009
Wanita, dan Pria
Selalu, dan selalu, wanita menjadi sorotan bagi banyak manusia di muka bumi. Sebagai makhluk yang diistimewakan Allah, sungguh wanita paling pantas untuk mendapatkan perhatian. Justru ketika kita mengabaikan mereka, tidak memperdulikan apa yang mereka lakukan di muka bumi ini, maka saat itu kita seolah menganggap mereka benda mati, atau malah mungkin lebih buruk dari itu, benda mati yang diperjualbelikan.
Wanita dan pria adalah sama sebagai makhluk, diciptakan oleh Allah. Tapi sebagai manusia, mereka diciptakan berbeda satu dengan yang lain. Karakter jasmani dan rohani sudah ditakdirkan tidak sama. Wanita telah dimaklumkan sebagai makhluk yang indah, lembut, dan setiap titik tubuhnya memiliki nilai keindahan yang sangat tinggi, tidak hanya bagi setiap pria yang memandangnya, tapi bahkan manusia secara umum. Sebaliknya, pria lekat dengan kesan kuat, tegas, dan setiap titik tubuhnya tidak terlalu diperhatikan secara mendalam oleh lawan jenisnya.
Memperhatikan pria biasa dengan berbaju lengkap, rasanya berbeda dengan memperhatikan wanita biasa berbaju lengkap. Seorang pria, normalnya, akan tetap mudah terdorong untuk "berimajinasi" terhadap wanita biasa, dibandingkan seorang wanita yang menatap pria biasa, yang tidak akan terlalu menimbulkan minat untuk berimajinasi. Ini adalah salah satu karakter fitrah yang sudah ditetapkan secara abadi dalam penciptaan pria dan wanita. Itulah hikmah dari mengapa aurat wanita lebih menutup, karena memang ini mencegah wanita dari musibah besar, dari imajinasi pria-pria, yang mereka tak akan pernah tahu seperti apa buruknya.
Wanita, di satu sisi, diuji dengan hasrat untuk memperindah dan mempercantik diri. Di sisi lain, pria juga diciptakan sangat mudah tertarik dengan kecantikan seorang wanita. Maka, Islam menyelamatkan keduanya dengan aturan yang sangat indah, yang betul-betul penuh perhitungan, asli dari Pencipta manusia secara langsung. Aturan tentang aurat ini juga sebenarnya lebih sesuai dengan fitrah semua makhluk Allah yang dituntut untuk terus berketurunan. Hanya suami yang sah-lah yang boleh dijadikan sasaran kecantikan wanita. Di hadapan suami, wanita boleh menampilkan kecantikan sejatinya. Karena, kecantikan wanita dan kekuatan pria memang dijadikan Allah sebagai faktor pendukung mereka dalam berketurunan. Seandainya wanita tidak diciptakan untuk selalu tampak indah di hadapan pria, lalu dengan apa seorang pria bisa tertarik kepada wanita? Dengan apa manusia bisa lestari sampai sekarang, kalau bukan salah satunya karena wanita diciptakan cantik, dan pria mencintai kecantikan ini?
Wanita dan pria diciptakan seperti binatang yang memiliki nafsu biologis. Mereka bisa saja seperti ayam, yang bebas memilih pasangan, lalu "berbuat" semau mereka. Namun, Allah juga telah menanamkan rasa cinta, rasa cemburu, rasa sayang, rasa ingin memiliki, rasa malu, rasa bersosial, yang bedanya sungguh terasa dengan binatang. Ini yang kemudian Allah bungkus secara indah dalam aturan pernikahan. Seorang pria tak akan pernah rela wanita yang ia sayangi, cintai, atau bahkan hanya tingkat 'disukai', tiba-tiba begitu dekat dengan pria lain, begitu pula sebaliknya. Maka, hubungan antara dua manusia berlawanan jenis, selain pernikahan, sudah semestinya memang diharamkan karena hal-hal di atas tadi. Pernikahan membuat pria dan wanita saling terikat satu sama lain, sebagai komitmen mereka untuk saling mencintai, lebih luas lagi dalam kerangka beribadah kepada Allah.
Wanita dan pria adalah manusia yang tetap berbeda satu sama lain, diciptakan untuk saling bersama, melengkapi satu sama lain. Selain itu, mereka tetaplah sama sebagai makhluk Allah, yang diciptakan sangat rapuh dan lemah, sehingga butuh untuk beribadah kepada-Nya.
Sekiranya, dan sepertinya, penjelasan ini kurang memuaskan, bisa kita cari sendiri tambahannya melalui sumber-sumber lain yang lebih baik. Semoga bermanfaat...
Hasbunallah wa ni'mal wakiil..
Wanita dan pria adalah sama sebagai makhluk, diciptakan oleh Allah. Tapi sebagai manusia, mereka diciptakan berbeda satu dengan yang lain. Karakter jasmani dan rohani sudah ditakdirkan tidak sama. Wanita telah dimaklumkan sebagai makhluk yang indah, lembut, dan setiap titik tubuhnya memiliki nilai keindahan yang sangat tinggi, tidak hanya bagi setiap pria yang memandangnya, tapi bahkan manusia secara umum. Sebaliknya, pria lekat dengan kesan kuat, tegas, dan setiap titik tubuhnya tidak terlalu diperhatikan secara mendalam oleh lawan jenisnya.
Memperhatikan pria biasa dengan berbaju lengkap, rasanya berbeda dengan memperhatikan wanita biasa berbaju lengkap. Seorang pria, normalnya, akan tetap mudah terdorong untuk "berimajinasi" terhadap wanita biasa, dibandingkan seorang wanita yang menatap pria biasa, yang tidak akan terlalu menimbulkan minat untuk berimajinasi. Ini adalah salah satu karakter fitrah yang sudah ditetapkan secara abadi dalam penciptaan pria dan wanita. Itulah hikmah dari mengapa aurat wanita lebih menutup, karena memang ini mencegah wanita dari musibah besar, dari imajinasi pria-pria, yang mereka tak akan pernah tahu seperti apa buruknya.
Wanita, di satu sisi, diuji dengan hasrat untuk memperindah dan mempercantik diri. Di sisi lain, pria juga diciptakan sangat mudah tertarik dengan kecantikan seorang wanita. Maka, Islam menyelamatkan keduanya dengan aturan yang sangat indah, yang betul-betul penuh perhitungan, asli dari Pencipta manusia secara langsung. Aturan tentang aurat ini juga sebenarnya lebih sesuai dengan fitrah semua makhluk Allah yang dituntut untuk terus berketurunan. Hanya suami yang sah-lah yang boleh dijadikan sasaran kecantikan wanita. Di hadapan suami, wanita boleh menampilkan kecantikan sejatinya. Karena, kecantikan wanita dan kekuatan pria memang dijadikan Allah sebagai faktor pendukung mereka dalam berketurunan. Seandainya wanita tidak diciptakan untuk selalu tampak indah di hadapan pria, lalu dengan apa seorang pria bisa tertarik kepada wanita? Dengan apa manusia bisa lestari sampai sekarang, kalau bukan salah satunya karena wanita diciptakan cantik, dan pria mencintai kecantikan ini?
Wanita dan pria diciptakan seperti binatang yang memiliki nafsu biologis. Mereka bisa saja seperti ayam, yang bebas memilih pasangan, lalu "berbuat" semau mereka. Namun, Allah juga telah menanamkan rasa cinta, rasa cemburu, rasa sayang, rasa ingin memiliki, rasa malu, rasa bersosial, yang bedanya sungguh terasa dengan binatang. Ini yang kemudian Allah bungkus secara indah dalam aturan pernikahan. Seorang pria tak akan pernah rela wanita yang ia sayangi, cintai, atau bahkan hanya tingkat 'disukai', tiba-tiba begitu dekat dengan pria lain, begitu pula sebaliknya. Maka, hubungan antara dua manusia berlawanan jenis, selain pernikahan, sudah semestinya memang diharamkan karena hal-hal di atas tadi. Pernikahan membuat pria dan wanita saling terikat satu sama lain, sebagai komitmen mereka untuk saling mencintai, lebih luas lagi dalam kerangka beribadah kepada Allah.
Wanita dan pria adalah manusia yang tetap berbeda satu sama lain, diciptakan untuk saling bersama, melengkapi satu sama lain. Selain itu, mereka tetaplah sama sebagai makhluk Allah, yang diciptakan sangat rapuh dan lemah, sehingga butuh untuk beribadah kepada-Nya.
Sekiranya, dan sepertinya, penjelasan ini kurang memuaskan, bisa kita cari sendiri tambahannya melalui sumber-sumber lain yang lebih baik. Semoga bermanfaat...
Hasbunallah wa ni'mal wakiil..
Ke Ciledug Naik Sinar Jaya di 2019
Minggu (7/7) lalu, saya berkesempatan menggunakan Sinar Jaya . Sepengetahuan saya, Sinar Jaya adalah salah satu perusahaan transportasi umum...
-
Wah, susah.. Semakin modern suatu peradaban, semakin mudah segala sesuatunya direkayasa sehingga kebenaran menjadi kabur. Banyak yang tidak ...
-
"Tapi di sana, dia main film drama juga. Di Jepang itu artisnya lebih profesional, mereka siap untuk main di film apa saja," ujar ...