09 February 2009
Hidup itu Keniscayaan, Berusaha adalah Pilihan
Sungguhpun Allah telah Membuat segalanya menjadi jelas bagi manusia, ternyata tetaplah sulit untuk menjalani hidup. Perlu begitu keras dalam usaha untuk mewujudkan hidup yang bahagia.
Di masa peralihan ini, diriku merasa berdiri di satu puncak gunung yang hanya bisa memuat dua tapak kaki kecilku saja, sedangkan angin menerpaku ke sana kemari. Aku lemah. Terombang-ambing. Tinggal menunggu waktu saja bagiku untuk jatuh. Dan aku harus berusaha untuk jatuh ke sisi yang tepat. Di bawah sana. Akankah?
Aku berada dalam bimbang. Sekarang usiaku baru (atau sudah) 22 tahun lebih sedikit. Sudah 4 tahun lebih aku kuliah. Skripsi sudah menunggu untuk dirampungkan. Kakak menunggu pertanggungjawabanku sebagai seorang anak yang berbakti kepada ibu. Kakakku tidak mau aku merepotkan ibu yang seorang diri terus menerus. Aku ingin cepat-cepat mandiri.
Di sisi lain, aku masih ingin menimba ilmu. Kecintaanku terhadap ilmu sungguh tak tertahankan. Bahkan aku sebenarnya telah berniat melanjutkan pendidikanku. Aku ingin menjadi seorang da'i, seperti almarhum bapak. Aku ingin mengubah keluargaku, teman-temanku. Dan untuk bisa mengubah mereka, aku harus mengubah diriku terlebih dulu. Itulah kenapa aku masih ingin nyantri lagi. Entah di pondok pesantren, atau kuliah jurusan agama.
Godaan untuk menikah pun sekarang mulai muncul, menyeruak menandingi keinginan kemandirianku. Aku ingin menyelamatkan diriku sendiri dari dunia ini. Aku tak mau pandanganku terus-terusan tertuju kepada hal-hal yang haram. Sesuatu harus dilakukan. Entah itu terhadap dunia ini, atau terhadap diriku yang melawan dunia. Aku tak punya kecenderungan terhadap seseorang. Aku hanya mencintai mereka yang mencintai Allah. Siapapun orangnya. Dia berhak menjadi pendampingku.
Suatu saat kematian menjemputku, aku ingin diriku telah menjadi 'seseorang' bagi dunia ini. Aku ingin setidaknya meninggalkan jejak bagi tanah tempat diri ini menginjakkan kaki. Aku ingin Allah menyambutku. Aku ingin berada dengan Muhammad shalallaahu 'alaihi wasallam. Karena, pada dasarnya aku telah berubah. Berubah menjadi lebih baik. Dan itu karena Allah dan Rasul-Nya.
Allah... Robbi habli hukmaw wa alhiqni bish sholihiin, waj 'allii lisaana sidqin fil aakhiriin, waj 'alnii miw warosati jannatin na'iim...
Hidup ini hanya sementara, dan kita akan kembali pada-Nya..
Tetaplah bertaqwa, Fadhli..
Di masa peralihan ini, diriku merasa berdiri di satu puncak gunung yang hanya bisa memuat dua tapak kaki kecilku saja, sedangkan angin menerpaku ke sana kemari. Aku lemah. Terombang-ambing. Tinggal menunggu waktu saja bagiku untuk jatuh. Dan aku harus berusaha untuk jatuh ke sisi yang tepat. Di bawah sana. Akankah?
Aku berada dalam bimbang. Sekarang usiaku baru (atau sudah) 22 tahun lebih sedikit. Sudah 4 tahun lebih aku kuliah. Skripsi sudah menunggu untuk dirampungkan. Kakak menunggu pertanggungjawabanku sebagai seorang anak yang berbakti kepada ibu. Kakakku tidak mau aku merepotkan ibu yang seorang diri terus menerus. Aku ingin cepat-cepat mandiri.
Di sisi lain, aku masih ingin menimba ilmu. Kecintaanku terhadap ilmu sungguh tak tertahankan. Bahkan aku sebenarnya telah berniat melanjutkan pendidikanku. Aku ingin menjadi seorang da'i, seperti almarhum bapak. Aku ingin mengubah keluargaku, teman-temanku. Dan untuk bisa mengubah mereka, aku harus mengubah diriku terlebih dulu. Itulah kenapa aku masih ingin nyantri lagi. Entah di pondok pesantren, atau kuliah jurusan agama.
Godaan untuk menikah pun sekarang mulai muncul, menyeruak menandingi keinginan kemandirianku. Aku ingin menyelamatkan diriku sendiri dari dunia ini. Aku tak mau pandanganku terus-terusan tertuju kepada hal-hal yang haram. Sesuatu harus dilakukan. Entah itu terhadap dunia ini, atau terhadap diriku yang melawan dunia. Aku tak punya kecenderungan terhadap seseorang. Aku hanya mencintai mereka yang mencintai Allah. Siapapun orangnya. Dia berhak menjadi pendampingku.
Suatu saat kematian menjemputku, aku ingin diriku telah menjadi 'seseorang' bagi dunia ini. Aku ingin setidaknya meninggalkan jejak bagi tanah tempat diri ini menginjakkan kaki. Aku ingin Allah menyambutku. Aku ingin berada dengan Muhammad shalallaahu 'alaihi wasallam. Karena, pada dasarnya aku telah berubah. Berubah menjadi lebih baik. Dan itu karena Allah dan Rasul-Nya.
Allah... Robbi habli hukmaw wa alhiqni bish sholihiin, waj 'allii lisaana sidqin fil aakhiriin, waj 'alnii miw warosati jannatin na'iim...
Hidup ini hanya sementara, dan kita akan kembali pada-Nya..
Tetaplah bertaqwa, Fadhli..
Ke Ciledug Naik Sinar Jaya di 2019
Minggu (7/7) lalu, saya berkesempatan menggunakan Sinar Jaya . Sepengetahuan saya, Sinar Jaya adalah salah satu perusahaan transportasi umum...
-
Wah, susah.. Semakin modern suatu peradaban, semakin mudah segala sesuatunya direkayasa sehingga kebenaran menjadi kabur. Banyak yang tidak ...
-
"Tapi di sana, dia main film drama juga. Di Jepang itu artisnya lebih profesional, mereka siap untuk main di film apa saja," ujar ...