#DropdownMenu { background:#ff6803; border-radius:6px; width: 880px; height: 35px; font-size: 12px; font-family: Arial, Tahoma, Verdana; color:#FFFFFF; font-weight: bold; margin-bottom: 30px; padding: 2px; } #Dropdownbox { width: 875px; border-radius:6px; float: left; margin: 0; padding: 0; } #strike { border-radius:6px; margin: 0; padding: 0; } #strike ul { border-radius:6px; float: left; list-style: none; margin: 0; padding: 0; } #strike li { border-radius:6px; list-style: none; margin: 0; padding: 0; } #strike li a, #strike li a:link, #strike li a:visited { border-radius:6px; color:#FFFFFF; display: block; font-size: 16px; font-family: Georgia, Times New Roman; font-weight: normal; margin: 0; padding: 9px 15px 8px; } #strike li a:hover, #strike li a:active { border-radius:6px; background:#FFFFFF; color:#ff6803; margin: 0; padding: 9px 15px 8px; text-decoration: none; } #strike li li a, #strike li li a:link, #strike li li a:visited { border-radius:6px; background:#ff6803; width: 150px; color:#FFFFFF; font-size: 14px; font-family: Georgia, Times New Roman; font-weight: normal; float: none; margin: 0; padding: 7px 10px; border-bottom: 1px solid #FFF; border-left: 1px solid #FFF; border-right: 1px solid #FFF; } #strike li li a:hover, #strike li li a:active { border-radius:6px; background:#FFFFFF; color:#ff6803; padding: 7px 10px; } #strike li { border-radius:6px; float: left; padding: 0; } #strike li ul { border-radius:6px; z-index: 9999; position: absolute; left: -999em; height: auto; width: 170px; margin: 0; padding: 0; } #strike li ul a { border-radius:6px; width: 140px; } #strike li ul ul { border-radius:6px; margin: -32px 0 0 171px; } #strike li:hover ul ul, #strike li:hover ul ul ul, #strike li.sfhover ul ul, #strike li.sfhover ul ul ul { border-radius:6px; left: -999em; } #strike li:hover ul, #strike li li:hover ul, #strike li li li:hover ul, #strike li.sfhover ul, #strike li li.sfhover ul, #strike li li li.sfhover ul { border-radius:6px; left: auto; } #strike li:hover, #strike li.sfhover { border-radius:6px; position: static; }

22 October 2009

Berharap, boleh, kan? (mode: obrolan)

Berharap, boleh, kan?

Yap, boleh-boleh aja. Silakan. Semaumu, deh. Tapi ga boleh berlebihan, ya..

Kenapa?

Yaa, karena segala sesuatu yang berlebihan itu ga baik.

Misalnya?

Yang namanya berlebihan itu, biasanya awalannya “terlalu” atau imbuhannya “ke-an”.
Dan semuanya pasti ga baik. Terlalu rendah, terlalu tinggi, itu dua-duanya ga baik. Yang baik, ya yang pertengahan, yang pas. Terlalu gelap, terlalu terang, itu juga dua-duanya ga baik. Terlalu gemuk, terlalu kurus, terlalu banyak, terlalu sedikit. Kokehan (kebanyakan), kecepetan (terlalu terburu-buru), dll.

Tapi, gimana menentukan sesuatu itu dikatakan berlebihan? Kan, tiap orang pasti beda-beda ngukurnya...

Ada hal-hal yang udah punya nilai ukur secara jelas, dan ada pula yang nilai ukurnya diserahkan kepada manusia itu sendiri...

Makin ga jelas. Kasih contoh...

Misalnya, yang udah jelas ukurannya, ya seperti tingkat keislaman seseorang. Ada batasan kapan seseorang masih bisa dikatakan sebagai muslim, juga kapan dia dikatakan melanggar batasan itu sehingga dikatakan udah keluar dari Islam.
Atau dalam kesehatan, para ahli kesehatan udah punya ukuran angka yang mereka sepakati dalam menilai apakah seseorang itu terlalu gemuk, gemuk, normal, kurus, atau terlalu kurus.
Atau contoh dalam keseharian, kalau kita menyajikan minum untuk tamu, biasanya udah ada ukuran “tak tertulis” seberapa banyak air minum kita tuang dalam satu gelas. Walaupun tak pasti, tapi kita biasanya punya batasan, kapan air minum itu terlihat tampak terlalu banyak, atau sebaliknya, masih perlu kita tambah sedikit lagi.

Terus, yang ga bisa diukur?

Yang ga bisa diukur, ini sangat kuat hubungannya dengan perasaan. Sedih, marah, senang, tertawa, termasuk juga rasa benci dan cinta, semua sebenarnya ada batasan kapan itu dianggap masih wajar, kapan udah dinilai “terlalu” atau berlebihan.

Ya, berarti boleh, kan, berharap?

Yo boleh.. boleh banget.. itu wajar.. kita boleh memiliki perasaan apapun.. kita boleh memunculkan perasaan apapun.. Eit, tapi, tunggu dulu... Ini berharap sama siapa, nih?

Yah, masa nyebut nama orang, sih.. Ya malu, dong...

Bukan, maksudnya, berharapnya itu sama sesama manusia, atau sama Allah...?? Maksudnya, kalau kita berharap kasih sayang dari Allah, wah, itu malah wajib. Berharap ampunan, berharap masuk surga-Nya, berharap perlindungan dari siksa-Nya, itu wajib.

Mmm... ini berharap sama manusia, sih... Atau, kalau terus dibilang, berharap sama Allah agar bisa dekat dengan seseorang, itu boleh, ga?

Yaa, artinya, kita berharap sama Allah agar kita didekatkan dengan seseorang, begitu? Ya boleh aja.. Tapi, ya itu tadi, ga boleh berlebihan...

Terus, gimana caranya ngukur kita udah berlebihan atau belum selama kita berharap ini?

Perasaanmu yang lebih paham...

Maksudnya?

Rasa berharap ini munculnya dari hati, maka hati itulah yang seharusnya mengukur diri, sebanyak apa dia mesti mengeluarkan rasa berharapnya kepada seseorang.. Hati itu yang harus punya ukuran. Hatinyalah yang harus mengetahui batasan...

Batasan apa? Dari mana hati kita tahu ada batasan-batasan itu?

Hati itu ibarat logam. Dia bisa dibentuk sedemikian rupa kalau ditempa, diasah, diukir. Jika logam itu udah dibentuk jadi lurus, lalu diberi angka-angka, dia bisa jadi alat ukur yang baik.
Tak cuma mengukur, tapi juga menilai, karena hati manusia diberi bekal fitrah keimanan. Dia udah tahu apakah sesuatu itu baik atau buruk baginya, dengan hati yang fitrah keimanannya udah terasah.
Fitrah keimanan itulah yang mestinya diasah, sehingga hati kita paham batas-batas perasaan itu. Fitrah keimanan itu yang jadi penilai, apa hati kita masih dalam batas kewajaran mengharap sesuatu dan seseorang di dunia ini, atau udah kelewat berharap.
Hati yang masih bersih itu kayak timbangan berat badan yang masih bekerja dengan baik, angkanya kecetak jelas, dan hasil ukurnya akurat. Sedangkan iman yang terasah itu seperti sistem kesepakatan dokter ahli kesehatan yang memberitahukan apakah hasil timbangan berat badan itu berpengaruh baik atau buruk bagi pasien yang baru saja ditimbang.

Yodah.. yodah.. panjang banget penjelasannya.. Pokoknya, intinya, kesimpulannya, boleh berharap tapi ga berlebihan, gitu?

Ya, begitu.. O ya, temenku pernah bilang, tiga proses dasar dalam setiap usaha manusia: Doa, usaha, dan tawakkal...

Apa hubungannya sama rasa berharap?

Oow ada, tentu...Berharap itu mirip berdoa.. Karena pada dasarnya, berharap itu kan “jeritan hati”. Kita tentu “menjerit” karena ingin “didengar”... Iya, kan?

Iya, tapi kan berharapnya sama Allah, ga sama orangnya langsung.. Jadi, orangnya kan ga denger..

Bukan gitu.. Kan setidaknya, kalau kita ga ingin “didengar” siapapun, tapi kan Allah Maha Mendengar.. Itu berarti kita memanjatkan jeritan harapan itu sama Allah.. Kita secara ga langsung, berdoa kepada Allah, meminta agar jeritan hati ini Allah perhatikan..

Iya, sih... Terus, hubungannya dengan tiga itu tadi.. apaan?

Kalau kita cuma berharap saja, tanpa berusaha dan tawakkal, ya berarti ada yang keliru dengan cara kita berharap... Kita berharap untuk memiliki sesuatu atau seseorang yang SUDAH PASTI SELAMANYA (setidaknya selama hidup di dunia yang fana ini) bukan milik kita (karena segala sesuatu – dan seluruh manusia – adalah milik Allah)... artinya, hanya ada dua kemungkinan, kita dititipi atau dipinjami sesuatu/orang itu (ga mungkin diserahi), atau kita tidak dipinjami sama sekali... sampai di sini dulu, masih bisa dipahami?

Iya, masih..masih...

Nah, artinya lagi, bukan hak kita untuk menentukan hasil dari pengharapan kita selama ini... kita harus menyerahkan hasil pengharapan itu HANYA kepada Allah... kita harus siap dengan segala kemungkinan... karena pada prinsipnya, orang itu juga bukan milik kita.. kita ga boleh menuntutnya seolah dia itu kepunyaan kita pribadi... dia milik Allah... dan Allah yang Maha Kuasa menentukan jalan hidupnya... dan jalan hidup kita tentunya...
Makanya tadi dijelaskan, rasa berharap itu jangan sampai berlebihan...
Kalau rasa berharap itu muncul karena cinta yang berlebihan, wajib bagi kita untuk menahan, mengurangi, syukur-syukur menetralkan..

Ha? Menetralkan? Enak banget bilangnya....!!

Menetralkan dengan menghilangkan itu kan beda.. Mengerikan kalau rasa cinta hilang dari hati manusia, bisa saling caci maki bahkan bunuh membunuh.. Menetralkan berarti kita memberikan rasa cinta SAMA seperti kita memberikannya kepada orang lain, kepada sahabat kita, saudara kita, tanpa ada pembedaan, tanpa pengkhususan, atau pengistimewaan.

Berarti salah dong, selama ini... Kayanya rasa berharap ini terlalu berlebihan... terlalu menuntut... Mosok bisa dikurangi, sih? Susah, laah...

Perasaan yang muncul dalam hati itu seperti tanaman yang muncul dari tanah... Baik itu marah, sedih, gembira, cinta, benci, semua bisa tumbuh dan dipelihara di dalam hati, seperti halnya semua tanaman bisa dikembangbiakkan dari tanah.
Ketika kita diusili orang lain, bibit kemarahan muncul dari dalam hati. Tapi untuk menyuburkan, memupuk, dan menumbuhkannya menjadi pohon kemarahan yang besar, itu adalah pilihan. Kita, kan bisa saja tidak memupuknya, tidak memperdulikannya, atau malah segera mencabut dan membuang bibit amarah itu dari hati kita. Itu terserah kita. Kita bisa saja menuruti amarah kita dengan membuatnya mewujud jadi nyata, misalnya tangan kita jadi entengan (alias mukul atau ngapain yang mengekspresikan kemarahan). Atau sebaliknya, kita pendam dan kubur perasaan amarah itu dalam-dalam, sambil menyadari, misalnya, kadang-kadang kita juga sering bikin orang itu marah.

Lha kalau rasa cinta, rasa rindu? Gimana? Masa kita kubur.. Emangnya mayat? Salah, ya?

Bukan rasa cinta atau rindunya yang kita salahkan.. Tapi waktu munculnya yang ga tepat. Kita rindu dan cinta sama orang yang statusnya masih haram buat kita.. Ingat, HANYA pernikahan yang disebut sebagai hubungan yang halal antara dua orang laki perempuan bukan mahram. Bukan tunangan, karena mereka belumlah benar-benar resmi menikah. Apalagi pacaran... Sori baen, lah, yaw... semua ini status hubungan yang salah kaprah, yang kebanjur udah menjamur di dunia, akibat cekokan budaya serba bebas dan serba semau diri sendiri ala barat.. Rasa cinta jadi barang murahan, ga beda sama nafsu hewani.

Sementara, kalau udah nikah, rasa cinta dan rindu itu bisa saling dipamerkan karena memang mereka udah halal satu sama lain. Pernikahan. Cuma itu bingkai yang halal bagi dua orang berlawanan jenis dan bukan mahram satu sama lain. Soalnya, memang dengan wadah mangkok bernama pernikahan, dua makhluk beda setrum bisa secara puas saling setrum-setruman. Halal, dan berpahala pula. Entah itu bentuk setrumannya berupa canda, tawa, bujuk, rayu, dan sebagainya yang sifatnya nyetrum, lah...

Ya, aku ga pacaran, koq...

Iya, bukan masalah pacaran atau ga. Masalahnya, bibit cinta tertanam dalam hati kita pada waktu yang salah, tapi kita malah menyuburkannya.. Kita memupuknya.. Kita menghiasi tanaman cinta itu.. Akhirnya, kita malah bangga dengan tanaman cinta yang sedemikian indah itu.. Semua itu kita lakukan di saat dia belum halal menjadi milik pribadi ini... Perasaan berharap itu kita lebih-lebihkan ketika dia belum tentu menjadi titipan yang Allah serahkan bagi kita...
Yang bikin tanaman itu makin membesar, adalah kita membiarkan lingkungan di sekitarnya semakin mendukung.. Kitalah yang membawa tanaman itu ke lingkungan yang cocok.. Matahari yang cerah, curah hujan yang berkecukupan, dan berbagai faktor penyubur lainnya.

Hwaduh.. Ga ngerti, ah...

Maksudnya, kamu suburkan perasaan di dalam hatimu dengan perbuatan yang kamu lakukan selama ini. Kamu sms dia setiap hari, kamu telepon, bahkan kalau smsmu ga dia balas, kamu kirimi pulsa segala.. Belum lagi lingkungan di sekitarmu yang terus mengobarkan rasa berharapmu kepada orang itu.. Kamu putar lagu-lagu cinta.. Kamu tonton sinetron-sinetron berkisah asmara.. Kamu sendiri yang menyuburkan perasaan itu...

Yaa, gimana lagi? Ga bisa dihindari, kan...

Tentu bisa.. Kan sudah dijelaskan, ini semua pilihan... Ada pendukung kesuburan, maka ada penghambat kesuburan... Carilah penghambat kesuburan itu..
Kurangi interaksimu dengannya, terus kurangi sampai perasaanmu mengatakan ga ada perlunya lagi untuk berkomunikasi dengannya. Karena sesungguhnya, kalaupun ada, itu bukan keperluan. Itu cuma alasan dari seribu alasan yang syetan bisikkan ke dalam hati.
Kurangi juga mendengarkan lagu dan menonton film yang bisa mengembalikan banjirnya perasaan berharap itu. Karena yang demikian juga salah satu wujud bisikan syetan. Ini semua tergantung wujud usaha keras dari pilihan yang kita ambil.
Kata temanku lagi, kalau ada kemauan, pasti ada seribu jalan. Kalau ga ada kemauan, pasti ada seribu alasan.

Kebaikan atau keburukan hidup kita ga tergantung sama orang itu. Tidak mesti tanpa orang itu di sisi kita, hidup kita akan menjadi lebih buruk. Tidak mesti pula dengannya di sisi kita, hidup akan menjadi lebih baik. Allah lebih Mengetahui apa-apa yang tidak kelihatan dari sisi hidup kita, dan Maha Bijaksana dengan segala ketetapan-Nya.

"Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa (tidak ada yang bisa menghalangi ketetapan-Nya kalau sudah berlaku) lagi Maha Bijaksana (di balik ketetapan-Nya)". (QS 8: 49, lihat juga QS 9: 59)

Kalau memang orang itu ditetapkan bagimu, itulah ketetapan dari Allah yang Maha Bijaksana. Kalau dia ga ditetapkan untukmu, itu juga ketetapan dari-Nya. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Bijaksana.

...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS 2: 216)

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta dipilihkan dengan ilmu pengetahuan-Mu dan aku mohon kekuasaan-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau Mengetahui, sedang aku tidak mengetahui, dan Engkau Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau Mengetahui bahwa urusan ini (menyebutkan persoalannya) lebih baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akibatnya terhadap diriku - atau - Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: …di dunia atau akhirat – maka tetapkanlah pilihan ini untukku, mudahkan jalannya, kemudian berkahilah pilihan ini. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa pilihan ini buruk bagiku, dalam agama, kehidupan, dan akibatnya kepada diriku, maka jauhkan pilihan ini dariku, dan jauhkan aku darinya, takdirkan yang terbaik bagiku di manapun itu, kemudian Ridhoilah aku di dalamnya.”

Amiin...

Yogyakarta, 21 Oktober 2009, 01.00 WIB
-fadhlijawharie-

21 June 2009

Penting vs Ga Penting

Satu hal yang menjadi kelebihan manusia dibandingkan makhluk lain adalah, mereka diberikan kemampuan untuk memilih. Tidak seperti hewan, atau malaikat, tumbuhan, atau alam semesta ini, yang kesemuanya selalu tunduk pada ketentuan Allah yang kauniyah.

Sementara itu, manusia (beserta jin) begitu istimewa. Mereka diberikan banyak pilihan pada setiap bagian hidupnya.

Inilah yang membuat kita diganjar. Ada balasan kebaikan yang berlipat untuk yang bisa memilih secara tepat. Dan tidak hanya memilih, tetapi juga melaksanakan konsekuensi dari pilihan itu. Sebaliknya, ada balasan kejahatan yang setimpal bagi mereka yang memilih secara sembrono tanpa perhitungan matang sehingga terjerumus dalam lingkaran setan tanpa ujung.

Hiduplah berjamaah, jangan sendirian. Karena setidaknya, kita perlu pertimbangan dari orang-orang terdekat. Kita perlu pandangan bijak dari mereka yang lebih berakal.

Setan akan selalu menggoda kita dengan pilihan-pilihan yang membingungkan. Kalau hati kita cenderung menginginkan serba mudah, serba cepat, maka itulah hati yang jadi sasaran empuk godaan setan. Kalaulah yang serba mudah dan cepat itu pilihan yang tepat, tak mungkin Allah mengirimkan begitu banyak ujian bagi manusia-manusia pilihan-Nya, para Nabi dan Rasul.

Ada uang, ada barang...

Tak mau kerja, mana bisa dapat upah...

Surga dipenuhi rintangan, Neraka dihiasi kesenangan.

05 June 2009

Pembelajar Abadi

Sejak pertama kali bikin akun di Friendster, sudah kucanangkan dengan tegas melalui profilku, bahwa aku adalah 'lifetime student', pembelajar seumur hidup.

(Terus, kenapa?)

Aku sedang merasa ingin menuliskan saja satu ungkapan yang baru kudapat akhir-akhir ini. Aku merasa ingin membagikannya di sini, lalu semua orang bisa membacanya.

Ungkapan itu adalah

"Bersikaplah keras terhadap dirimu sendiri, maka dunia akan lembut kepadamu.
Bersikap lembutlah dengan diri sendiri, maka dunia akan terasa keras bagimu."

Keras di sini tentu bukan dalam taraf yang berlebihan. Artinya, kita memang harus berjuang keras dalam hidup. Istilah kerennya, jihad, mujahadah..

Karena memang, untuk mendapatkan surga, itulah harga yang pantas....

Met bekerja keras..!

24 March 2009

Manajemen Waktu

Dulu, ketika aku masih hanya berstatus mahasiswa tulen, waktuku selalu surplus. Tak pernah kurang. Selalu menyisakan waktu. Berangkat kuliah, pulang ke kos. Sudah... Apalagi?

Tapi sekarang, semenjak aku "berubah", waktu serasa mendesakku begitu keras. Seolah-olah aku berada di antara dua dinding yang terus menerus menyempit secara perlahan menuju ke arahku.

Dulu aku sudah berusaha mencatat setiap rencanaku dalam sebuah buku kecil. Alhamdulillah, sedikit lebih tertata. Tapi sekarang, aku seakan terlalu sibuk untuk hanya sekedar mencatatkan agenda-agendaku di dalam buku kecil itu. Aku kembali kelelahan. Aku serasa telah mengecewakan banyak orang dengan melanggar waktuku sendiri. Bahkan aku telah mengecewakan diriku sendiri, karena aku tak mampu memenuhi hak-hakku sendiri dengan baik.

Ya Allah.. bantulah aku.. bantulah hamba-Mu.. aku lemah tanpa-Mu..
Kubersujud pada-Mu.. setelah itu, kuharap Rahmat-Mu, menyapa sejuk harap cemasku..

22 February 2009

Wanita, dan Pria

Selalu, dan selalu, wanita menjadi sorotan bagi banyak manusia di muka bumi. Sebagai makhluk yang diistimewakan Allah, sungguh wanita paling pantas untuk mendapatkan perhatian. Justru ketika kita mengabaikan mereka, tidak memperdulikan apa yang mereka lakukan di muka bumi ini, maka saat itu kita seolah menganggap mereka benda mati, atau malah mungkin lebih buruk dari itu, benda mati yang diperjualbelikan.

Wanita dan pria adalah sama sebagai makhluk, diciptakan oleh Allah. Tapi sebagai manusia, mereka diciptakan berbeda satu dengan yang lain. Karakter jasmani dan rohani sudah ditakdirkan tidak sama. Wanita telah dimaklumkan sebagai makhluk yang indah, lembut, dan setiap titik tubuhnya memiliki nilai keindahan yang sangat tinggi, tidak hanya bagi setiap pria yang memandangnya, tapi bahkan manusia secara umum. Sebaliknya, pria lekat dengan kesan kuat, tegas, dan setiap titik tubuhnya tidak terlalu diperhatikan secara mendalam oleh lawan jenisnya.

Memperhatikan pria biasa dengan berbaju lengkap, rasanya berbeda dengan memperhatikan wanita biasa berbaju lengkap. Seorang pria, normalnya, akan tetap mudah terdorong untuk "berimajinasi" terhadap wanita biasa, dibandingkan seorang wanita yang menatap pria biasa, yang tidak akan terlalu menimbulkan minat untuk berimajinasi. Ini adalah salah satu karakter fitrah yang sudah ditetapkan secara abadi dalam penciptaan pria dan wanita. Itulah hikmah dari mengapa aurat wanita lebih menutup, karena memang ini mencegah wanita dari musibah besar, dari imajinasi pria-pria, yang mereka tak akan pernah tahu seperti apa buruknya.

Wanita, di satu sisi, diuji dengan hasrat untuk memperindah dan mempercantik diri. Di sisi lain, pria juga diciptakan sangat mudah tertarik dengan kecantikan seorang wanita. Maka, Islam menyelamatkan keduanya dengan aturan yang sangat indah, yang betul-betul penuh perhitungan, asli dari Pencipta manusia secara langsung. Aturan tentang aurat ini juga sebenarnya lebih sesuai dengan fitrah semua makhluk Allah yang dituntut untuk terus berketurunan. Hanya suami yang sah-lah yang boleh dijadikan sasaran kecantikan wanita. Di hadapan suami, wanita boleh menampilkan kecantikan sejatinya. Karena, kecantikan wanita dan kekuatan pria memang dijadikan Allah sebagai faktor pendukung mereka dalam berketurunan. Seandainya wanita tidak diciptakan untuk selalu tampak indah di hadapan pria, lalu dengan apa seorang pria bisa tertarik kepada wanita? Dengan apa manusia bisa lestari sampai sekarang, kalau bukan salah satunya karena wanita diciptakan cantik, dan pria mencintai kecantikan ini?

Wanita dan pria diciptakan seperti binatang yang memiliki nafsu biologis. Mereka bisa saja seperti ayam, yang bebas memilih pasangan, lalu "berbuat" semau mereka. Namun, Allah juga telah menanamkan rasa cinta, rasa cemburu, rasa sayang, rasa ingin memiliki, rasa malu, rasa bersosial, yang bedanya sungguh terasa dengan binatang. Ini yang kemudian Allah bungkus secara indah dalam aturan pernikahan. Seorang pria tak akan pernah rela wanita yang ia sayangi, cintai, atau bahkan hanya tingkat 'disukai', tiba-tiba begitu dekat dengan pria lain, begitu pula sebaliknya. Maka, hubungan antara dua manusia berlawanan jenis, selain pernikahan, sudah semestinya memang diharamkan karena hal-hal di atas tadi. Pernikahan membuat pria dan wanita saling terikat satu sama lain, sebagai komitmen mereka untuk saling mencintai, lebih luas lagi dalam kerangka beribadah kepada Allah.

Wanita dan pria adalah manusia yang tetap berbeda satu sama lain, diciptakan untuk saling bersama, melengkapi satu sama lain. Selain itu, mereka tetaplah sama sebagai makhluk Allah, yang diciptakan sangat rapuh dan lemah, sehingga butuh untuk beribadah kepada-Nya.

Sekiranya, dan sepertinya, penjelasan ini kurang memuaskan, bisa kita cari sendiri tambahannya melalui sumber-sumber lain yang lebih baik. Semoga bermanfaat...

Hasbunallah wa ni'mal wakiil..

09 February 2009

Hidup itu Keniscayaan, Berusaha adalah Pilihan

Sungguhpun Allah telah Membuat segalanya menjadi jelas bagi manusia, ternyata tetaplah sulit untuk menjalani hidup. Perlu begitu keras dalam usaha untuk mewujudkan hidup yang bahagia.

Di masa peralihan ini, diriku merasa berdiri di satu puncak gunung yang hanya bisa memuat dua tapak kaki kecilku saja, sedangkan angin menerpaku ke sana kemari. Aku lemah. Terombang-ambing. Tinggal menunggu waktu saja bagiku untuk jatuh. Dan aku harus berusaha untuk jatuh ke sisi yang tepat. Di bawah sana. Akankah?

Aku berada dalam bimbang. Sekarang usiaku baru (atau sudah) 22 tahun lebih sedikit. Sudah 4 tahun lebih aku kuliah. Skripsi sudah menunggu untuk dirampungkan. Kakak menunggu pertanggungjawabanku sebagai seorang anak yang berbakti kepada ibu. Kakakku tidak mau aku merepotkan ibu yang seorang diri terus menerus. Aku ingin cepat-cepat mandiri.

Di sisi lain, aku masih ingin menimba ilmu. Kecintaanku terhadap ilmu sungguh tak tertahankan. Bahkan aku sebenarnya telah berniat melanjutkan pendidikanku. Aku ingin menjadi seorang da'i, seperti almarhum bapak. Aku ingin mengubah keluargaku, teman-temanku. Dan untuk bisa mengubah mereka, aku harus mengubah diriku terlebih dulu. Itulah kenapa aku masih ingin nyantri lagi. Entah di pondok pesantren, atau kuliah jurusan agama.

Godaan untuk menikah pun sekarang mulai muncul, menyeruak menandingi keinginan kemandirianku. Aku ingin menyelamatkan diriku sendiri dari dunia ini. Aku tak mau pandanganku terus-terusan tertuju kepada hal-hal yang haram. Sesuatu harus dilakukan. Entah itu terhadap dunia ini, atau terhadap diriku yang melawan dunia. Aku tak punya kecenderungan terhadap seseorang. Aku hanya mencintai mereka yang mencintai Allah. Siapapun orangnya. Dia berhak menjadi pendampingku.

Suatu saat kematian menjemputku, aku ingin diriku telah menjadi 'seseorang' bagi dunia ini. Aku ingin setidaknya meninggalkan jejak bagi tanah tempat diri ini menginjakkan kaki. Aku ingin Allah menyambutku. Aku ingin berada dengan Muhammad shalallaahu 'alaihi wasallam. Karena, pada dasarnya aku telah berubah. Berubah menjadi lebih baik. Dan itu karena Allah dan Rasul-Nya.

Allah... Robbi habli hukmaw wa alhiqni bish sholihiin, waj 'allii lisaana sidqin fil aakhiriin, waj 'alnii miw warosati jannatin na'iim...

Hidup ini hanya sementara, dan kita akan kembali pada-Nya..

Tetaplah bertaqwa, Fadhli..

09 January 2009

Manusia= Binatang + Akal

Kalau kita bicara manusia hanya dengan fisik dan nafsunya saja, tanpa melibatkan yang lain, bisa dibilang itulah wujud hewan paling sempurna (menurut saya). Dan bagaimanapun, memang manusia itu binatang (karena itu, digolongkan dalam Primata). Yang membedakan adalah manusia dikarunia akal. Itulah puncak Kasih Sayang dari Allah, Pencipta manusia..

Maka, sudah sepatutnya kita tidak terlalu cenderung kepada tubuh kita. Kita tidak layak menempatkan fisik sebagai prioritas pertama dan segala-galanya. Kita harus seimbang, antara fisik, mental, dan tentu saja, hati.

Tapi, kenyataannya, berjuta-juta orang sekarang sedang mengalami kelalaian super dahsyat. Akibat media massa yang juga terus membombardir dengan iklan-iklan pemuas kebutuhan fisikal, manusia menjadi terlalu condong memanjakan tubuh.

Maka, hari ini, lahirlah pria-pria pesolek. Mereka mempertontonkan tubuh, berkaos ketat, lalu berjalan di jalanan. Mereka bangga ketika orang-orang memandang. Sebaliknya, orang lain pun merasa takjub, kagum, sekaligus kemudian menjadi iri.

Lahirlah juga wanita-wanita pesolek. Mereka berkaos ketat. Berbaju mini. Betis-betis mulus diperlihatkan. Belahan dada tak malu dipamerkan. Cara berjalan pun dibuat semenarik mungkin. Tak heran, kalau sekarang juga banyak penyanyi-penyanyi yang betul-betul memanfaatkan modal tubuh dan suara untuk "menjual diri". Mereka berbusana "waaah.." dan bersuara "[tanpa huruf 'w', tak beda jauh]". Sangat tipis bedanya dengan pelacur.

Televisi, majalah, radio, tak henti-hentinya merayu manusia untuk mempercantik-memperganteng diri..

Tidakkah mereka sadar? renungkan sejenak.. mereka tak ubahnya seperti binatang.. tak punya akal.. yang dipunya hanya hawa nafsu.. dengan tubuh mereka, mereka saling berlomba menjadi yang paling menarik di dalam kelompok sesama jenisnya.. dan berlomba mendapatkan perhatian sebesar-besarnya dari lawan jenisnya.. tidakkah itu mirip binatang.. sampai-sampai akal kalah oleh nafsu.. sehingga nafsu bisa menaklukkan akal.. nafsu telah memaksa akal untuk berpikir keras bagaimana cara memuaskan kebutuhan tubuh ini..

Sungguh, tidak ada salahnya memperbagus diri. Yang salah adalah ketika memperbagus diri itu membuat kita menjadi terlihat ‘hina’ dan ‘murah’ di Mata Allah. Kita salah menempatkan untuk siapa kita memperbagus diri…Kita bukan binatang biasa. Sadarlah.. Kita punya akal.. Kita punya hati nurani.. Sungguh, mereka yang lalai benar-benar telah dimatikan hatinya oleh Allah.. Jangan sampai kita seperti itu.. Hanya kepada Allahlah kita semua akan kembali.. Dan kita akan bertanggung jawab atas semuanya..

Ke Ciledug Naik Sinar Jaya di 2019

Minggu (7/7) lalu, saya berkesempatan menggunakan Sinar Jaya . Sepengetahuan saya, Sinar Jaya adalah salah satu perusahaan transportasi umum...