#DropdownMenu { background:#ff6803; border-radius:6px; width: 880px; height: 35px; font-size: 12px; font-family: Arial, Tahoma, Verdana; color:#FFFFFF; font-weight: bold; margin-bottom: 30px; padding: 2px; } #Dropdownbox { width: 875px; border-radius:6px; float: left; margin: 0; padding: 0; } #strike { border-radius:6px; margin: 0; padding: 0; } #strike ul { border-radius:6px; float: left; list-style: none; margin: 0; padding: 0; } #strike li { border-radius:6px; list-style: none; margin: 0; padding: 0; } #strike li a, #strike li a:link, #strike li a:visited { border-radius:6px; color:#FFFFFF; display: block; font-size: 16px; font-family: Georgia, Times New Roman; font-weight: normal; margin: 0; padding: 9px 15px 8px; } #strike li a:hover, #strike li a:active { border-radius:6px; background:#FFFFFF; color:#ff6803; margin: 0; padding: 9px 15px 8px; text-decoration: none; } #strike li li a, #strike li li a:link, #strike li li a:visited { border-radius:6px; background:#ff6803; width: 150px; color:#FFFFFF; font-size: 14px; font-family: Georgia, Times New Roman; font-weight: normal; float: none; margin: 0; padding: 7px 10px; border-bottom: 1px solid #FFF; border-left: 1px solid #FFF; border-right: 1px solid #FFF; } #strike li li a:hover, #strike li li a:active { border-radius:6px; background:#FFFFFF; color:#ff6803; padding: 7px 10px; } #strike li { border-radius:6px; float: left; padding: 0; } #strike li ul { border-radius:6px; z-index: 9999; position: absolute; left: -999em; height: auto; width: 170px; margin: 0; padding: 0; } #strike li ul a { border-radius:6px; width: 140px; } #strike li ul ul { border-radius:6px; margin: -32px 0 0 171px; } #strike li:hover ul ul, #strike li:hover ul ul ul, #strike li.sfhover ul ul, #strike li.sfhover ul ul ul { border-radius:6px; left: -999em; } #strike li:hover ul, #strike li li:hover ul, #strike li li li:hover ul, #strike li.sfhover ul, #strike li li.sfhover ul, #strike li li li.sfhover ul { border-radius:6px; left: auto; } #strike li:hover, #strike li.sfhover { border-radius:6px; position: static; }

09 July 2019

Ke Ciledug Naik Sinar Jaya di 2019

Minggu (7/7) lalu, saya berkesempatan menggunakan Sinar Jaya. Sepengetahuan saya, Sinar Jaya adalah salah satu perusahaan transportasi umum paling sukses terutama di jalur Purbalingga-Jakarta. Kemarin itu, saya bermaksud ke rumah kakak ipar di Ciledug. Sinar Jaya punya banyak trayek, dan untungnya ada satu trayek yang sampai ke Ciledug, Tangerang, via Lebakbulus.

Tarifnya Rp 80.000,- per orang. Busnya AC - Ekonomi dengan formasi kursi 3-2. Jadi, cukup padat dan sesak. Bahkan, saat berada di pertengahan perjalanan saya menyaksikan sendiri sopirnya sampai memberhentikan busnya dan beranjak dari kursi untuk mengingatkan beberapa orang pendaki gunung yang ngobrol dengan suara yang terlalu keras. Setelah itu, suasana menjadi lebih tenang.

Kami berangkat pukul 16.30 WIB. Setelah menempuh sekitar satu jam lebih perjalanan, di sekitar Pemalang, bus berhenti di semacam Rest Area yang kemungkinan milik Sinar Jaya sendiri. Kami berhenti kurang lebih 45 menit untuk salat dan makan malam. Bus memasuki tol di sekitar daerah Tegal.

Sampai di gerbang tol Cikampek, sekitar pukul 00.30 WIB, kami memasuki stasiun pengisian bahan bakar, kemudian masuk tol lagi sampai mendekati Lebakbulus. Kami turun di perempatan Ciledug dekat CBD mall pada pukul 04.15 WIB.

Dari segi kondisi bus, AC-Ekonomi memang bukan yang terbaik. Armada Laksana tipe Legacy yang sudah cukup berumur menghasilkan bunyi-bunyian di setiap melewati jalan cor beton atau jalan jelek. Ada yang terlihat lebih nyaman dan armada yang lebih baru, tapi mungkin untuk kelas Eksekutif. Tapi ini salah satu yang termurah bagi yang ingin bepergian dari Purwokerto/Purbalingga ke Jakarta. Harga tiketnya bahkan sama dengan arah ke Yogya, yang jaraknya setengah kali lebih pendek. Banyak yang bilang, tiket ke "barat" lebih murah daripada ke "timur".

02 July 2019

Biaya Perbaikan Kaca Depan (Windshield) Aerio

Akhir Juni kemarin dapat musibah yang tidak terduga. Mobil Suzuki Aerionya menyeruduk truk yang terparkir. Posisi mobil yang terlalu dekat dengan truk membuat ruang untuk berbelok kurang banyak. Kaca sebelah kiri terkena pojok bak truk yang berbahan besi. Akibatnya, kaca retak dan body di atas ban kiri depan agak penyok.

Singkat cerita, mobil dibawa ke bengkel kenteng magic kenalan.

Rincian biayanya;
1. Perbaikan body: Rp 1.800.000,-
2. Kaca Depan Aerio Asahi Lamisafe (plus ongkos pasang): Rp 2.250.000,-
Total: Rp 4.050.000,-

Lokasi bengkel body di depan Kantor Maju Lancar
Sedangkan bengkel kaca ada di utara Gedung Pertemuan Taman Perwacy, dekag Ringroad. Namanya Bengkel Kaca Mobil Wening.

26 January 2019

Kondangan di Dua Tempat Berbeda

Hari ini, Sabtu, saya menghadiri hajatan resepsi pernikahan dari salah satu atasan istri saya. Bertiga bersama teman istri, kami menyewa Gocar. Jalanan sebenarnya cukup lancar. Hanya titik persimpangan Kentungan yang cukup membuat perjalanan kami menjadi bertambah lama. Saat ini, di persimpangan Kentungan memang sedang diadakan pengerjaan Underpass Kentungan.

Kami tiba di Grha Sarina Vidi sekitar pukul 14. Gedungnya dari luar sudah terlihat megah. Tersedianya parkir bawah tanah cukup mengesankan buat saya. Baru kali ini pergi kondangan ke tempat yang memiliki parkir di bawah tanah seperti gedung ini.

Untuk menuju ruang utama, harus menapaki beberapa anak tangga. Buku tamu tersedia di sebelah kiri dan kanan. Ruangan di dalam bisa dibilang sangat luas. Cukup untuk memuat ratusan orang. Mungkin saya salah menghitung, tapi bisa jadi bisa memuat sekitar 800 lebih. Tetapi dengan adanya berbagai hidangan dan panggung musik, mungkin jadi sedikit berkurang.

Langit-langitnya tinggi dan seluruh ruangan terjangkau AC, membuat siapapun di dalamnya tetap sejuk.

Besok saya juga menghadiri lagi resepsi di Museum Wayang Kekayon. Jujur saja, saya belum pernah merasa berada di dalam museum selama saya menghadiri hajatan pernikahan sebelumnya. Nampaknya, museum itu memang lama tidak terurus sehingga hanya digunakan sebagai tempat hajatan pernikahan saja.

Gedungnya memiliki halaman yang luas. Pohon rindang yang cukup banyak mengisi halaman. Saat malam, kegelapan menyelimuti halaman ini. Sebaliknya, di saat siang, nuansa sejuk sangat terasa.

02 June 2010

A Little (but Big) Country Named Israel




How could a country think that it is just okay to "fly at" a ship - which is clearly in humanitarian mission?
How could a country think that it is just okay to "fly at" a ship within international zone?
What was in there, in Mavi Marmara, that made Israel "flying at" her...?
and how could this world think that these facts are all just okay?

I am really not okay..!!

A country rushed an international ship and what other countries can do is only declaiming, urging "full investigation"..?

Why don't they do some realistic and concrete policies...

Many years Israel have been so rude to this world more than any other country ever be and nothing the world can do to them..... (and what is stranger is that there is still another country standing up to protect them..)

This time.. why isn't there any big man speaks as Mr Bush ever spoken..." Whether you are with us (the whole world) or with the terrorists..? (who are the terrorists..?? it has been clear for the last century..)

It is not our willing to hate Israel...
It is Israel, with their -always-controversial- acts that have always been making us hate Israel..
So don't blame us if the world hate Israel.. They themselves (Israel) are to blame...

Free Palestine, ........... Israel (fill in the blank yourself..)

-fadhlijauhari- 2 Juni 2010

http://www.facebook.com/home.php?#!/notes/mohamad-fadhli/a-little-but-big-country-named-israel/402785344482

12 January 2010

Suster Keramas.. kita kecolongan lagi..!!!




"Tapi di sana, dia main film drama juga. Di Jepang itu artisnya lebih profesional, mereka siap untuk main di film apa saja," ujar Odi Mulya Hidayat, pihak Maxima saat berbincang tentang artis Jepang yang terlibat di film Suster Keramas, dengan detikhot di Pasar Festival, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (15/12/2009).

Suster Keramas adalah film terbaru Maxima bergenre horor (dan xxx) yang sudah beredar sejak sekitar 1 pekan ini di Indonesia. Salah satu artisnya adalah seorang artis wanita dari Jepang, yang katanya pihak Maxima sih profesional, karena artis ini bisa "all-around", bermain di jenis film apapun, termasuk ....ehm .. ehm...

Yang menjadi sorotan adalah, apakah ada kaitannya, antara "artis profesional", dengan "siap untuk main di film apa saja"?

Yap, saya sih setuju aja. Artinya, yang namanya profesi, ya memang harus bisa diandalkan dalam bidangnya. Kalau artis, ya berakting.

Pemain sepak bola profesional, artinya harus siap untuk main di klub mana saja.
Guru profesional, artinya harus siap ngajar di sekolah mana saja.
Da'i profesional (kalau ada), berarti harus siap ceramah di mana saja.

Sayangnya, manusia tak memiliki batasan tentang "apa saja" itu. Mungkin kasusnya beda, karena da'i dan pemain sepak bola jelas punya koridor yang jelas dalam bekerja. Mereka punya seragam (tak mungkin da'i atau pemain sepakbola bekerja tak pakai baju, kan?), punya sasaran yang jelas (kalau da'i, memberikan yang terbaik demi ridha Allah - kalau pemain bola, memberikan yang terbaik bagi klubnya), dan aturan-aturan jelas lainnya.

Sementara kalau artis? Wah, artis yang profesional, tak punya batasan. Artis itu sendirilah yang menentukan batasannya. Jadi, kalau seorang artis menentukan batas, dia hanya mau main di film jenis ini saja, yang adegannya seperti ini saja, maka itulah batasannya. Tapi kalau dia tak memberikan batasan, entah dia mau berpakaian seperti apa (atau tak berpakaian sama sekali), beradegan seperti apa (bahkan mungkin sampai mencelakakan dirinya sendiri), itu mungkin juga namanya profesional, ya??

Inilah kekeliruan cara berpikir akibat zaman globalisasi.

Indonesia terus dirusak oleh budaya luar. Ketika kita menyebut kata globalisasi, pasti kita bilang, dunia yang melebur menjadi satu, tanpa batasan. Tapi ternyata tak sepenuhnya makna ini terwujud dalam kenyataan. Lihat sendiri, "dunia"nya siapa yang melebur tanpa batasan di seluruh penjuru bumi ini? Budayanya siapa yang ternyata "mendunia"? Amerika, Inggris, Jepang, bahkan negara-negara ketiga di Afrika dan Asia, budaya siapa yang ternyata mendunia?

Permasalahannya, bukan budaya siapa-nya itu.. Tetapi, budaya seperti apa yang sudah mendunia?

Masalahnya, budaya yang mendunia adalah yang membuat orang tanpa pakaian sehelai pun menjadi wajar saja dilakukan di depan layar kaca. Perkataan "telanjang" memang tak ada masalah. Tapi "telanjang di depan umum" yang dikatakan "wajar", sungguh masalah serius.

Ketika banyak orang tua dan LSM sosial+religius di Amerika menentang pornografi+pornoaksi di negara mereka, di Indonesia yang (dulunya) negara penuh nilai-nilai luhur ketimuran, justru sineasnya yang berjuang menegakkan pornografi+pornoaksi.

Ketika banyak wanita dan gerakan feminis lainnya menyerukan penghargaan terhadap martabat wanita, para kaum filmis Indonesia justru meminta seorang artis wanita luar negeri untuk mengajarkan kepada wanita Indonesia, bagaimana caranya menghancurkan martabat kaum wanita itu sendiri.

MUI dilecehkan, LSF mandul, pemerintah tak banyak bergerak. Siapa lagi yang bisa diandalkan?

Ke Ciledug Naik Sinar Jaya di 2019

Minggu (7/7) lalu, saya berkesempatan menggunakan Sinar Jaya . Sepengetahuan saya, Sinar Jaya adalah salah satu perusahaan transportasi umum...