Ada yang bilang kehidupan ini harus ter'kotomisasi'kan, entah itu di- atau tri-. Mereka berpendapat bahwa hidup ini harus terbagi rata... Sebagian untuk dunia, sebagian untuk akhirat, begitu...
Secara lahiriah, iya, memang begitu.. Secara dzohir, memang Allah memerintahkan kita untuk mencari bagian akhirat kita, tanpa melupakan bagian dunia kita. Kita punya bagian untuk diri sendiri, untuk keluarga, dan untuk Allah...
Tetapi, secara batiniah, pada hakikatnya, sesungguhnya hidup ini hanyalah untuk akhirat semata.. Semua tindakan kita sebenarnya orientasinya adalah akhirat. Kita kuliah untuk menuntut ilmu, sebagai wujud syukur telah dikaruniai kemampuan berpikir (=ibadah). Juga sebagai wujud bakti kita kepada orang tua yang telah mendidik dan menafkahi kita (=ibadah). Kita ngenet pun juga akan dipertanggungjawabkan. Kita tidur pun bisa bernilai ibadah, atau dosa. Artinya, setiap amal kita bisa berpahala, atau sebaliknya, mengundang murka-Nya.
Wa maa kholaqtul jinnaa wal insaa illaa liya'buduun..
Siswa yang menuntut ilmu, ibu yang mengurusi rumah tangga, bapak yang pergi mencari nafkah, pada esensinya sebenarnya sebagai bentuk pengabdian mereka kepada yang telah menciptakan mereka dengan berbagai potensi kemanusiaannya...
So, niatkan setiap detik kita untuk beribadah, berbuat kebaikan. Hidup di dunia ini memang kendaraan. Kendaraan kita untuk beribadah, secara total.
Karena akhirat lebih abadi...