22 October 2009
Berharap, boleh, kan? (mode: obrolan)
Berharap, boleh, kan?
Yap, boleh-boleh aja. Silakan. Semaumu, deh. Tapi ga boleh berlebihan, ya..
Kenapa?
Yaa, karena segala sesuatu yang berlebihan itu ga baik.
Misalnya?
Yang namanya berlebihan itu, biasanya awalannya “terlalu” atau imbuhannya “ke-an”.
Dan semuanya pasti ga baik. Terlalu rendah, terlalu tinggi, itu dua-duanya ga baik. Yang baik, ya yang pertengahan, yang pas. Terlalu gelap, terlalu terang, itu juga dua-duanya ga baik. Terlalu gemuk, terlalu kurus, terlalu banyak, terlalu sedikit. Kokehan (kebanyakan), kecepetan (terlalu terburu-buru), dll.
Tapi, gimana menentukan sesuatu itu dikatakan berlebihan? Kan, tiap orang pasti beda-beda ngukurnya...
Ada hal-hal yang udah punya nilai ukur secara jelas, dan ada pula yang nilai ukurnya diserahkan kepada manusia itu sendiri...
Makin ga jelas. Kasih contoh...
Misalnya, yang udah jelas ukurannya, ya seperti tingkat keislaman seseorang. Ada batasan kapan seseorang masih bisa dikatakan sebagai muslim, juga kapan dia dikatakan melanggar batasan itu sehingga dikatakan udah keluar dari Islam.
Atau dalam kesehatan, para ahli kesehatan udah punya ukuran angka yang mereka sepakati dalam menilai apakah seseorang itu terlalu gemuk, gemuk, normal, kurus, atau terlalu kurus.
Atau contoh dalam keseharian, kalau kita menyajikan minum untuk tamu, biasanya udah ada ukuran “tak tertulis” seberapa banyak air minum kita tuang dalam satu gelas. Walaupun tak pasti, tapi kita biasanya punya batasan, kapan air minum itu terlihat tampak terlalu banyak, atau sebaliknya, masih perlu kita tambah sedikit lagi.
Terus, yang ga bisa diukur?
Yang ga bisa diukur, ini sangat kuat hubungannya dengan perasaan. Sedih, marah, senang, tertawa, termasuk juga rasa benci dan cinta, semua sebenarnya ada batasan kapan itu dianggap masih wajar, kapan udah dinilai “terlalu” atau berlebihan.
Ya, berarti boleh, kan, berharap?
Yo boleh.. boleh banget.. itu wajar.. kita boleh memiliki perasaan apapun.. kita boleh memunculkan perasaan apapun.. Eit, tapi, tunggu dulu... Ini berharap sama siapa, nih?
Yah, masa nyebut nama orang, sih.. Ya malu, dong...
Bukan, maksudnya, berharapnya itu sama sesama manusia, atau sama Allah...?? Maksudnya, kalau kita berharap kasih sayang dari Allah, wah, itu malah wajib. Berharap ampunan, berharap masuk surga-Nya, berharap perlindungan dari siksa-Nya, itu wajib.
Mmm... ini berharap sama manusia, sih... Atau, kalau terus dibilang, berharap sama Allah agar bisa dekat dengan seseorang, itu boleh, ga?
Yaa, artinya, kita berharap sama Allah agar kita didekatkan dengan seseorang, begitu? Ya boleh aja.. Tapi, ya itu tadi, ga boleh berlebihan...
Terus, gimana caranya ngukur kita udah berlebihan atau belum selama kita berharap ini?
Perasaanmu yang lebih paham...
Maksudnya?
Rasa berharap ini munculnya dari hati, maka hati itulah yang seharusnya mengukur diri, sebanyak apa dia mesti mengeluarkan rasa berharapnya kepada seseorang.. Hati itu yang harus punya ukuran. Hatinyalah yang harus mengetahui batasan...
Batasan apa? Dari mana hati kita tahu ada batasan-batasan itu?
Hati itu ibarat logam. Dia bisa dibentuk sedemikian rupa kalau ditempa, diasah, diukir. Jika logam itu udah dibentuk jadi lurus, lalu diberi angka-angka, dia bisa jadi alat ukur yang baik.
Tak cuma mengukur, tapi juga menilai, karena hati manusia diberi bekal fitrah keimanan. Dia udah tahu apakah sesuatu itu baik atau buruk baginya, dengan hati yang fitrah keimanannya udah terasah.
Fitrah keimanan itulah yang mestinya diasah, sehingga hati kita paham batas-batas perasaan itu. Fitrah keimanan itu yang jadi penilai, apa hati kita masih dalam batas kewajaran mengharap sesuatu dan seseorang di dunia ini, atau udah kelewat berharap.
Hati yang masih bersih itu kayak timbangan berat badan yang masih bekerja dengan baik, angkanya kecetak jelas, dan hasil ukurnya akurat. Sedangkan iman yang terasah itu seperti sistem kesepakatan dokter ahli kesehatan yang memberitahukan apakah hasil timbangan berat badan itu berpengaruh baik atau buruk bagi pasien yang baru saja ditimbang.
Yodah.. yodah.. panjang banget penjelasannya.. Pokoknya, intinya, kesimpulannya, boleh berharap tapi ga berlebihan, gitu?
Ya, begitu.. O ya, temenku pernah bilang, tiga proses dasar dalam setiap usaha manusia: Doa, usaha, dan tawakkal...
Apa hubungannya sama rasa berharap?
Oow ada, tentu...Berharap itu mirip berdoa.. Karena pada dasarnya, berharap itu kan “jeritan hati”. Kita tentu “menjerit” karena ingin “didengar”... Iya, kan?
Iya, tapi kan berharapnya sama Allah, ga sama orangnya langsung.. Jadi, orangnya kan ga denger..
Bukan gitu.. Kan setidaknya, kalau kita ga ingin “didengar” siapapun, tapi kan Allah Maha Mendengar.. Itu berarti kita memanjatkan jeritan harapan itu sama Allah.. Kita secara ga langsung, berdoa kepada Allah, meminta agar jeritan hati ini Allah perhatikan..
Iya, sih... Terus, hubungannya dengan tiga itu tadi.. apaan?
Kalau kita cuma berharap saja, tanpa berusaha dan tawakkal, ya berarti ada yang keliru dengan cara kita berharap... Kita berharap untuk memiliki sesuatu atau seseorang yang SUDAH PASTI SELAMANYA (setidaknya selama hidup di dunia yang fana ini) bukan milik kita (karena segala sesuatu – dan seluruh manusia – adalah milik Allah)... artinya, hanya ada dua kemungkinan, kita dititipi atau dipinjami sesuatu/orang itu (ga mungkin diserahi), atau kita tidak dipinjami sama sekali... sampai di sini dulu, masih bisa dipahami?
Iya, masih..masih...
Nah, artinya lagi, bukan hak kita untuk menentukan hasil dari pengharapan kita selama ini... kita harus menyerahkan hasil pengharapan itu HANYA kepada Allah... kita harus siap dengan segala kemungkinan... karena pada prinsipnya, orang itu juga bukan milik kita.. kita ga boleh menuntutnya seolah dia itu kepunyaan kita pribadi... dia milik Allah... dan Allah yang Maha Kuasa menentukan jalan hidupnya... dan jalan hidup kita tentunya...
Makanya tadi dijelaskan, rasa berharap itu jangan sampai berlebihan...
Kalau rasa berharap itu muncul karena cinta yang berlebihan, wajib bagi kita untuk menahan, mengurangi, syukur-syukur menetralkan..
Ha? Menetralkan? Enak banget bilangnya....!!
Menetralkan dengan menghilangkan itu kan beda.. Mengerikan kalau rasa cinta hilang dari hati manusia, bisa saling caci maki bahkan bunuh membunuh.. Menetralkan berarti kita memberikan rasa cinta SAMA seperti kita memberikannya kepada orang lain, kepada sahabat kita, saudara kita, tanpa ada pembedaan, tanpa pengkhususan, atau pengistimewaan.
Berarti salah dong, selama ini... Kayanya rasa berharap ini terlalu berlebihan... terlalu menuntut... Mosok bisa dikurangi, sih? Susah, laah...
Perasaan yang muncul dalam hati itu seperti tanaman yang muncul dari tanah... Baik itu marah, sedih, gembira, cinta, benci, semua bisa tumbuh dan dipelihara di dalam hati, seperti halnya semua tanaman bisa dikembangbiakkan dari tanah.
Ketika kita diusili orang lain, bibit kemarahan muncul dari dalam hati. Tapi untuk menyuburkan, memupuk, dan menumbuhkannya menjadi pohon kemarahan yang besar, itu adalah pilihan. Kita, kan bisa saja tidak memupuknya, tidak memperdulikannya, atau malah segera mencabut dan membuang bibit amarah itu dari hati kita. Itu terserah kita. Kita bisa saja menuruti amarah kita dengan membuatnya mewujud jadi nyata, misalnya tangan kita jadi entengan (alias mukul atau ngapain yang mengekspresikan kemarahan). Atau sebaliknya, kita pendam dan kubur perasaan amarah itu dalam-dalam, sambil menyadari, misalnya, kadang-kadang kita juga sering bikin orang itu marah.
Lha kalau rasa cinta, rasa rindu? Gimana? Masa kita kubur.. Emangnya mayat? Salah, ya?
Bukan rasa cinta atau rindunya yang kita salahkan.. Tapi waktu munculnya yang ga tepat. Kita rindu dan cinta sama orang yang statusnya masih haram buat kita.. Ingat, HANYA pernikahan yang disebut sebagai hubungan yang halal antara dua orang laki perempuan bukan mahram. Bukan tunangan, karena mereka belumlah benar-benar resmi menikah. Apalagi pacaran... Sori baen, lah, yaw... semua ini status hubungan yang salah kaprah, yang kebanjur udah menjamur di dunia, akibat cekokan budaya serba bebas dan serba semau diri sendiri ala barat.. Rasa cinta jadi barang murahan, ga beda sama nafsu hewani.
Sementara, kalau udah nikah, rasa cinta dan rindu itu bisa saling dipamerkan karena memang mereka udah halal satu sama lain. Pernikahan. Cuma itu bingkai yang halal bagi dua orang berlawanan jenis dan bukan mahram satu sama lain. Soalnya, memang dengan wadah mangkok bernama pernikahan, dua makhluk beda setrum bisa secara puas saling setrum-setruman. Halal, dan berpahala pula. Entah itu bentuk setrumannya berupa canda, tawa, bujuk, rayu, dan sebagainya yang sifatnya nyetrum, lah...
Ya, aku ga pacaran, koq...
Iya, bukan masalah pacaran atau ga. Masalahnya, bibit cinta tertanam dalam hati kita pada waktu yang salah, tapi kita malah menyuburkannya.. Kita memupuknya.. Kita menghiasi tanaman cinta itu.. Akhirnya, kita malah bangga dengan tanaman cinta yang sedemikian indah itu.. Semua itu kita lakukan di saat dia belum halal menjadi milik pribadi ini... Perasaan berharap itu kita lebih-lebihkan ketika dia belum tentu menjadi titipan yang Allah serahkan bagi kita...
Yang bikin tanaman itu makin membesar, adalah kita membiarkan lingkungan di sekitarnya semakin mendukung.. Kitalah yang membawa tanaman itu ke lingkungan yang cocok.. Matahari yang cerah, curah hujan yang berkecukupan, dan berbagai faktor penyubur lainnya.
Hwaduh.. Ga ngerti, ah...
Maksudnya, kamu suburkan perasaan di dalam hatimu dengan perbuatan yang kamu lakukan selama ini. Kamu sms dia setiap hari, kamu telepon, bahkan kalau smsmu ga dia balas, kamu kirimi pulsa segala.. Belum lagi lingkungan di sekitarmu yang terus mengobarkan rasa berharapmu kepada orang itu.. Kamu putar lagu-lagu cinta.. Kamu tonton sinetron-sinetron berkisah asmara.. Kamu sendiri yang menyuburkan perasaan itu...
Yaa, gimana lagi? Ga bisa dihindari, kan...
Tentu bisa.. Kan sudah dijelaskan, ini semua pilihan... Ada pendukung kesuburan, maka ada penghambat kesuburan... Carilah penghambat kesuburan itu..
Kurangi interaksimu dengannya, terus kurangi sampai perasaanmu mengatakan ga ada perlunya lagi untuk berkomunikasi dengannya. Karena sesungguhnya, kalaupun ada, itu bukan keperluan. Itu cuma alasan dari seribu alasan yang syetan bisikkan ke dalam hati.
Kurangi juga mendengarkan lagu dan menonton film yang bisa mengembalikan banjirnya perasaan berharap itu. Karena yang demikian juga salah satu wujud bisikan syetan. Ini semua tergantung wujud usaha keras dari pilihan yang kita ambil.
Kata temanku lagi, kalau ada kemauan, pasti ada seribu jalan. Kalau ga ada kemauan, pasti ada seribu alasan.
Kebaikan atau keburukan hidup kita ga tergantung sama orang itu. Tidak mesti tanpa orang itu di sisi kita, hidup kita akan menjadi lebih buruk. Tidak mesti pula dengannya di sisi kita, hidup akan menjadi lebih baik. Allah lebih Mengetahui apa-apa yang tidak kelihatan dari sisi hidup kita, dan Maha Bijaksana dengan segala ketetapan-Nya.
"Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa (tidak ada yang bisa menghalangi ketetapan-Nya kalau sudah berlaku) lagi Maha Bijaksana (di balik ketetapan-Nya)". (QS 8: 49, lihat juga QS 9: 59)
Kalau memang orang itu ditetapkan bagimu, itulah ketetapan dari Allah yang Maha Bijaksana. Kalau dia ga ditetapkan untukmu, itu juga ketetapan dari-Nya. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Bijaksana.
...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS 2: 216)
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta dipilihkan dengan ilmu pengetahuan-Mu dan aku mohon kekuasaan-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau Mengetahui, sedang aku tidak mengetahui, dan Engkau Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau Mengetahui bahwa urusan ini (menyebutkan persoalannya) lebih baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akibatnya terhadap diriku - atau - Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: …di dunia atau akhirat – maka tetapkanlah pilihan ini untukku, mudahkan jalannya, kemudian berkahilah pilihan ini. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa pilihan ini buruk bagiku, dalam agama, kehidupan, dan akibatnya kepada diriku, maka jauhkan pilihan ini dariku, dan jauhkan aku darinya, takdirkan yang terbaik bagiku di manapun itu, kemudian Ridhoilah aku di dalamnya.”
Amiin...
Yogyakarta, 21 Oktober 2009, 01.00 WIB
-fadhlijawharie-
Yap, boleh-boleh aja. Silakan. Semaumu, deh. Tapi ga boleh berlebihan, ya..
Kenapa?
Yaa, karena segala sesuatu yang berlebihan itu ga baik.
Misalnya?
Yang namanya berlebihan itu, biasanya awalannya “terlalu” atau imbuhannya “ke-an”.
Dan semuanya pasti ga baik. Terlalu rendah, terlalu tinggi, itu dua-duanya ga baik. Yang baik, ya yang pertengahan, yang pas. Terlalu gelap, terlalu terang, itu juga dua-duanya ga baik. Terlalu gemuk, terlalu kurus, terlalu banyak, terlalu sedikit. Kokehan (kebanyakan), kecepetan (terlalu terburu-buru), dll.
Tapi, gimana menentukan sesuatu itu dikatakan berlebihan? Kan, tiap orang pasti beda-beda ngukurnya...
Ada hal-hal yang udah punya nilai ukur secara jelas, dan ada pula yang nilai ukurnya diserahkan kepada manusia itu sendiri...
Makin ga jelas. Kasih contoh...
Misalnya, yang udah jelas ukurannya, ya seperti tingkat keislaman seseorang. Ada batasan kapan seseorang masih bisa dikatakan sebagai muslim, juga kapan dia dikatakan melanggar batasan itu sehingga dikatakan udah keluar dari Islam.
Atau dalam kesehatan, para ahli kesehatan udah punya ukuran angka yang mereka sepakati dalam menilai apakah seseorang itu terlalu gemuk, gemuk, normal, kurus, atau terlalu kurus.
Atau contoh dalam keseharian, kalau kita menyajikan minum untuk tamu, biasanya udah ada ukuran “tak tertulis” seberapa banyak air minum kita tuang dalam satu gelas. Walaupun tak pasti, tapi kita biasanya punya batasan, kapan air minum itu terlihat tampak terlalu banyak, atau sebaliknya, masih perlu kita tambah sedikit lagi.
Terus, yang ga bisa diukur?
Yang ga bisa diukur, ini sangat kuat hubungannya dengan perasaan. Sedih, marah, senang, tertawa, termasuk juga rasa benci dan cinta, semua sebenarnya ada batasan kapan itu dianggap masih wajar, kapan udah dinilai “terlalu” atau berlebihan.
Ya, berarti boleh, kan, berharap?
Yo boleh.. boleh banget.. itu wajar.. kita boleh memiliki perasaan apapun.. kita boleh memunculkan perasaan apapun.. Eit, tapi, tunggu dulu... Ini berharap sama siapa, nih?
Yah, masa nyebut nama orang, sih.. Ya malu, dong...
Bukan, maksudnya, berharapnya itu sama sesama manusia, atau sama Allah...?? Maksudnya, kalau kita berharap kasih sayang dari Allah, wah, itu malah wajib. Berharap ampunan, berharap masuk surga-Nya, berharap perlindungan dari siksa-Nya, itu wajib.
Mmm... ini berharap sama manusia, sih... Atau, kalau terus dibilang, berharap sama Allah agar bisa dekat dengan seseorang, itu boleh, ga?
Yaa, artinya, kita berharap sama Allah agar kita didekatkan dengan seseorang, begitu? Ya boleh aja.. Tapi, ya itu tadi, ga boleh berlebihan...
Terus, gimana caranya ngukur kita udah berlebihan atau belum selama kita berharap ini?
Perasaanmu yang lebih paham...
Maksudnya?
Rasa berharap ini munculnya dari hati, maka hati itulah yang seharusnya mengukur diri, sebanyak apa dia mesti mengeluarkan rasa berharapnya kepada seseorang.. Hati itu yang harus punya ukuran. Hatinyalah yang harus mengetahui batasan...
Batasan apa? Dari mana hati kita tahu ada batasan-batasan itu?
Hati itu ibarat logam. Dia bisa dibentuk sedemikian rupa kalau ditempa, diasah, diukir. Jika logam itu udah dibentuk jadi lurus, lalu diberi angka-angka, dia bisa jadi alat ukur yang baik.
Tak cuma mengukur, tapi juga menilai, karena hati manusia diberi bekal fitrah keimanan. Dia udah tahu apakah sesuatu itu baik atau buruk baginya, dengan hati yang fitrah keimanannya udah terasah.
Fitrah keimanan itulah yang mestinya diasah, sehingga hati kita paham batas-batas perasaan itu. Fitrah keimanan itu yang jadi penilai, apa hati kita masih dalam batas kewajaran mengharap sesuatu dan seseorang di dunia ini, atau udah kelewat berharap.
Hati yang masih bersih itu kayak timbangan berat badan yang masih bekerja dengan baik, angkanya kecetak jelas, dan hasil ukurnya akurat. Sedangkan iman yang terasah itu seperti sistem kesepakatan dokter ahli kesehatan yang memberitahukan apakah hasil timbangan berat badan itu berpengaruh baik atau buruk bagi pasien yang baru saja ditimbang.
Yodah.. yodah.. panjang banget penjelasannya.. Pokoknya, intinya, kesimpulannya, boleh berharap tapi ga berlebihan, gitu?
Ya, begitu.. O ya, temenku pernah bilang, tiga proses dasar dalam setiap usaha manusia: Doa, usaha, dan tawakkal...
Apa hubungannya sama rasa berharap?
Oow ada, tentu...Berharap itu mirip berdoa.. Karena pada dasarnya, berharap itu kan “jeritan hati”. Kita tentu “menjerit” karena ingin “didengar”... Iya, kan?
Iya, tapi kan berharapnya sama Allah, ga sama orangnya langsung.. Jadi, orangnya kan ga denger..
Bukan gitu.. Kan setidaknya, kalau kita ga ingin “didengar” siapapun, tapi kan Allah Maha Mendengar.. Itu berarti kita memanjatkan jeritan harapan itu sama Allah.. Kita secara ga langsung, berdoa kepada Allah, meminta agar jeritan hati ini Allah perhatikan..
Iya, sih... Terus, hubungannya dengan tiga itu tadi.. apaan?
Kalau kita cuma berharap saja, tanpa berusaha dan tawakkal, ya berarti ada yang keliru dengan cara kita berharap... Kita berharap untuk memiliki sesuatu atau seseorang yang SUDAH PASTI SELAMANYA (setidaknya selama hidup di dunia yang fana ini) bukan milik kita (karena segala sesuatu – dan seluruh manusia – adalah milik Allah)... artinya, hanya ada dua kemungkinan, kita dititipi atau dipinjami sesuatu/orang itu (ga mungkin diserahi), atau kita tidak dipinjami sama sekali... sampai di sini dulu, masih bisa dipahami?
Iya, masih..masih...
Nah, artinya lagi, bukan hak kita untuk menentukan hasil dari pengharapan kita selama ini... kita harus menyerahkan hasil pengharapan itu HANYA kepada Allah... kita harus siap dengan segala kemungkinan... karena pada prinsipnya, orang itu juga bukan milik kita.. kita ga boleh menuntutnya seolah dia itu kepunyaan kita pribadi... dia milik Allah... dan Allah yang Maha Kuasa menentukan jalan hidupnya... dan jalan hidup kita tentunya...
Makanya tadi dijelaskan, rasa berharap itu jangan sampai berlebihan...
Kalau rasa berharap itu muncul karena cinta yang berlebihan, wajib bagi kita untuk menahan, mengurangi, syukur-syukur menetralkan..
Ha? Menetralkan? Enak banget bilangnya....!!
Menetralkan dengan menghilangkan itu kan beda.. Mengerikan kalau rasa cinta hilang dari hati manusia, bisa saling caci maki bahkan bunuh membunuh.. Menetralkan berarti kita memberikan rasa cinta SAMA seperti kita memberikannya kepada orang lain, kepada sahabat kita, saudara kita, tanpa ada pembedaan, tanpa pengkhususan, atau pengistimewaan.
Berarti salah dong, selama ini... Kayanya rasa berharap ini terlalu berlebihan... terlalu menuntut... Mosok bisa dikurangi, sih? Susah, laah...
Perasaan yang muncul dalam hati itu seperti tanaman yang muncul dari tanah... Baik itu marah, sedih, gembira, cinta, benci, semua bisa tumbuh dan dipelihara di dalam hati, seperti halnya semua tanaman bisa dikembangbiakkan dari tanah.
Ketika kita diusili orang lain, bibit kemarahan muncul dari dalam hati. Tapi untuk menyuburkan, memupuk, dan menumbuhkannya menjadi pohon kemarahan yang besar, itu adalah pilihan. Kita, kan bisa saja tidak memupuknya, tidak memperdulikannya, atau malah segera mencabut dan membuang bibit amarah itu dari hati kita. Itu terserah kita. Kita bisa saja menuruti amarah kita dengan membuatnya mewujud jadi nyata, misalnya tangan kita jadi entengan (alias mukul atau ngapain yang mengekspresikan kemarahan). Atau sebaliknya, kita pendam dan kubur perasaan amarah itu dalam-dalam, sambil menyadari, misalnya, kadang-kadang kita juga sering bikin orang itu marah.
Lha kalau rasa cinta, rasa rindu? Gimana? Masa kita kubur.. Emangnya mayat? Salah, ya?
Bukan rasa cinta atau rindunya yang kita salahkan.. Tapi waktu munculnya yang ga tepat. Kita rindu dan cinta sama orang yang statusnya masih haram buat kita.. Ingat, HANYA pernikahan yang disebut sebagai hubungan yang halal antara dua orang laki perempuan bukan mahram. Bukan tunangan, karena mereka belumlah benar-benar resmi menikah. Apalagi pacaran... Sori baen, lah, yaw... semua ini status hubungan yang salah kaprah, yang kebanjur udah menjamur di dunia, akibat cekokan budaya serba bebas dan serba semau diri sendiri ala barat.. Rasa cinta jadi barang murahan, ga beda sama nafsu hewani.
Sementara, kalau udah nikah, rasa cinta dan rindu itu bisa saling dipamerkan karena memang mereka udah halal satu sama lain. Pernikahan. Cuma itu bingkai yang halal bagi dua orang berlawanan jenis dan bukan mahram satu sama lain. Soalnya, memang dengan wadah mangkok bernama pernikahan, dua makhluk beda setrum bisa secara puas saling setrum-setruman. Halal, dan berpahala pula. Entah itu bentuk setrumannya berupa canda, tawa, bujuk, rayu, dan sebagainya yang sifatnya nyetrum, lah...
Ya, aku ga pacaran, koq...
Iya, bukan masalah pacaran atau ga. Masalahnya, bibit cinta tertanam dalam hati kita pada waktu yang salah, tapi kita malah menyuburkannya.. Kita memupuknya.. Kita menghiasi tanaman cinta itu.. Akhirnya, kita malah bangga dengan tanaman cinta yang sedemikian indah itu.. Semua itu kita lakukan di saat dia belum halal menjadi milik pribadi ini... Perasaan berharap itu kita lebih-lebihkan ketika dia belum tentu menjadi titipan yang Allah serahkan bagi kita...
Yang bikin tanaman itu makin membesar, adalah kita membiarkan lingkungan di sekitarnya semakin mendukung.. Kitalah yang membawa tanaman itu ke lingkungan yang cocok.. Matahari yang cerah, curah hujan yang berkecukupan, dan berbagai faktor penyubur lainnya.
Hwaduh.. Ga ngerti, ah...
Maksudnya, kamu suburkan perasaan di dalam hatimu dengan perbuatan yang kamu lakukan selama ini. Kamu sms dia setiap hari, kamu telepon, bahkan kalau smsmu ga dia balas, kamu kirimi pulsa segala.. Belum lagi lingkungan di sekitarmu yang terus mengobarkan rasa berharapmu kepada orang itu.. Kamu putar lagu-lagu cinta.. Kamu tonton sinetron-sinetron berkisah asmara.. Kamu sendiri yang menyuburkan perasaan itu...
Yaa, gimana lagi? Ga bisa dihindari, kan...
Tentu bisa.. Kan sudah dijelaskan, ini semua pilihan... Ada pendukung kesuburan, maka ada penghambat kesuburan... Carilah penghambat kesuburan itu..
Kurangi interaksimu dengannya, terus kurangi sampai perasaanmu mengatakan ga ada perlunya lagi untuk berkomunikasi dengannya. Karena sesungguhnya, kalaupun ada, itu bukan keperluan. Itu cuma alasan dari seribu alasan yang syetan bisikkan ke dalam hati.
Kurangi juga mendengarkan lagu dan menonton film yang bisa mengembalikan banjirnya perasaan berharap itu. Karena yang demikian juga salah satu wujud bisikan syetan. Ini semua tergantung wujud usaha keras dari pilihan yang kita ambil.
Kata temanku lagi, kalau ada kemauan, pasti ada seribu jalan. Kalau ga ada kemauan, pasti ada seribu alasan.
Kebaikan atau keburukan hidup kita ga tergantung sama orang itu. Tidak mesti tanpa orang itu di sisi kita, hidup kita akan menjadi lebih buruk. Tidak mesti pula dengannya di sisi kita, hidup akan menjadi lebih baik. Allah lebih Mengetahui apa-apa yang tidak kelihatan dari sisi hidup kita, dan Maha Bijaksana dengan segala ketetapan-Nya.
"Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa (tidak ada yang bisa menghalangi ketetapan-Nya kalau sudah berlaku) lagi Maha Bijaksana (di balik ketetapan-Nya)". (QS 8: 49, lihat juga QS 9: 59)
Kalau memang orang itu ditetapkan bagimu, itulah ketetapan dari Allah yang Maha Bijaksana. Kalau dia ga ditetapkan untukmu, itu juga ketetapan dari-Nya. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Bijaksana.
...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS 2: 216)
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta dipilihkan dengan ilmu pengetahuan-Mu dan aku mohon kekuasaan-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau Mengetahui, sedang aku tidak mengetahui, dan Engkau Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau Mengetahui bahwa urusan ini (menyebutkan persoalannya) lebih baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akibatnya terhadap diriku - atau - Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: …di dunia atau akhirat – maka tetapkanlah pilihan ini untukku, mudahkan jalannya, kemudian berkahilah pilihan ini. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa pilihan ini buruk bagiku, dalam agama, kehidupan, dan akibatnya kepada diriku, maka jauhkan pilihan ini dariku, dan jauhkan aku darinya, takdirkan yang terbaik bagiku di manapun itu, kemudian Ridhoilah aku di dalamnya.”
Amiin...
Yogyakarta, 21 Oktober 2009, 01.00 WIB
-fadhlijawharie-
Subscribe to:
Posts (Atom)
Ke Ciledug Naik Sinar Jaya di 2019
Minggu (7/7) lalu, saya berkesempatan menggunakan Sinar Jaya . Sepengetahuan saya, Sinar Jaya adalah salah satu perusahaan transportasi umum...
-
Wah, susah.. Semakin modern suatu peradaban, semakin mudah segala sesuatunya direkayasa sehingga kebenaran menjadi kabur. Banyak yang tidak ...
-
"Tapi di sana, dia main film drama juga. Di Jepang itu artisnya lebih profesional, mereka siap untuk main di film apa saja," ujar ...