
Semua orang yang tingkat agamanya baik, pasti kualitas hidupnya baik juga. Dan ini sifatnya mutlak!
Seandainya engkau berkata engkau mengenal seseorang yang agamanya baik tetapi hidupnya tidak, maka pasti ada yang salah. Masih mungkin agamanya belum sempurna betul, sehingga engkau mengatakan tidak melihat kebaikan dalam hidupnya. Atau mungkin engkau saja yang memandang hidupnya tidak baik, sementara ternyata sudah baik menurut orang itu (ini subyektivitas manusia). Berarti, tentukan dulu kriteria macam apa yang bisa membuatmu menyebut bahwa hidup seseorang itu baik (lagi-lagi subyektif).
Yang jelas, menurutku, kebahagiaan itulah kebaikan hidup seseorang. Dan kebahagiaan tidak bersifat lahiriah, sobat. Kebahagiaan yang sejati letaknya di dalam hati. Ketenteraman jiwa, ketenangan pikiran, kesejukan wajah, semuanya pasti akan terpancar oleh orang-orang yang bahagia.
Dengan kebahagiaan itu, orang akan kecipratan manfaat dari dirinya. Dengan kebahagiaan itu, nilai-nilai keindahan agamanya terserak ke segala penjuru. Dengan kebahagiaan itu, yakinlah, kebenaran akan terus ia bela sekuat mungkin, dan kejelekan akan tetap ia lawan sekeras mungkin.
Agama, kebenaran, kebahagiaan, carilah itu, kawan!
“Dengan cinta hidup ‘kan indah.
Dengan ilmu hidup ‘kan mudah.
Dengan agama hidup ‘kan terarah.”
Perkataan dari Mas Ghofur - seorang penjual martabak telur berbadan subur - yang ia tirukan secara sempurna dari neneknya. Kalau engkau ingin menemuinya, hendak berbincang dengannya, atau mencicipi rasa lezat martabaknya, pergilah ke Jalan Wonosari KM 7 di waktu petang. (Lho, jadi promosi...)