
"Tapi di sana, dia main film drama juga. Di Jepang itu artisnya lebih profesional, mereka siap untuk main di film apa saja," ujar Odi Mulya Hidayat, pihak Maxima saat berbincang tentang artis Jepang yang terlibat di film Suster Keramas, dengan detikhot di Pasar Festival, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (15/12/2009).
Suster Keramas adalah film terbaru Maxima bergenre horor (dan xxx) yang sudah beredar sejak sekitar 1 pekan ini di Indonesia. Salah satu artisnya adalah seorang artis wanita dari Jepang, yang katanya pihak Maxima sih profesional, karena artis ini bisa "all-around", bermain di jenis film apapun, termasuk ....ehm .. ehm...
Yang menjadi sorotan adalah, apakah ada kaitannya, antara "artis profesional", dengan "siap untuk main di film apa saja"?
Yap, saya sih setuju aja. Artinya, yang namanya profesi, ya memang harus bisa diandalkan dalam bidangnya. Kalau artis, ya berakting.
Pemain sepak bola profesional, artinya harus siap untuk main di klub mana saja.
Guru profesional, artinya harus siap ngajar di sekolah mana saja.
Da'i profesional (kalau ada), berarti harus siap ceramah di mana saja.
Sayangnya, manusia tak memiliki batasan tentang "apa saja" itu. Mungkin kasusnya beda, karena da'i dan pemain sepak bola jelas punya koridor yang jelas dalam bekerja. Mereka punya seragam (tak mungkin da'i atau pemain sepakbola bekerja tak pakai baju, kan?), punya sasaran yang jelas (kalau da'i, memberikan yang terbaik demi ridha Allah - kalau pemain bola, memberikan yang terbaik bagi klubnya), dan aturan-aturan jelas lainnya.
Sementara kalau artis? Wah, artis yang profesional, tak punya batasan. Artis itu sendirilah yang menentukan batasannya. Jadi, kalau seorang artis menentukan batas, dia hanya mau main di film jenis ini saja, yang adegannya seperti ini saja, maka itulah batasannya. Tapi kalau dia tak memberikan batasan, entah dia mau berpakaian seperti apa (atau tak berpakaian sama sekali), beradegan seperti apa (bahkan mungkin sampai mencelakakan dirinya sendiri), itu mungkin juga namanya profesional, ya??
Inilah kekeliruan cara berpikir akibat zaman globalisasi.
Indonesia terus dirusak oleh budaya luar. Ketika kita menyebut kata globalisasi, pasti kita bilang, dunia yang melebur menjadi satu, tanpa batasan. Tapi ternyata tak sepenuhnya makna ini terwujud dalam kenyataan. Lihat sendiri, "dunia"nya siapa yang melebur tanpa batasan di seluruh penjuru bumi ini? Budayanya siapa yang ternyata "mendunia"? Amerika, Inggris, Jepang, bahkan negara-negara ketiga di Afrika dan Asia, budaya siapa yang ternyata mendunia?
Permasalahannya, bukan budaya siapa-nya itu.. Tetapi, budaya seperti apa yang sudah mendunia?
Masalahnya, budaya yang mendunia adalah yang membuat orang tanpa pakaian sehelai pun menjadi wajar saja dilakukan di depan layar kaca. Perkataan "telanjang" memang tak ada masalah. Tapi "telanjang di depan umum" yang dikatakan "wajar", sungguh masalah serius.
Ketika banyak orang tua dan LSM sosial+religius di Amerika menentang pornografi+pornoaksi di negara mereka, di Indonesia yang (dulunya) negara penuh nilai-nilai luhur ketimuran, justru sineasnya yang berjuang menegakkan pornografi+pornoaksi.
Ketika banyak wanita dan gerakan feminis lainnya menyerukan penghargaan terhadap martabat wanita, para kaum filmis Indonesia justru meminta seorang artis wanita luar negeri untuk mengajarkan kepada wanita Indonesia, bagaimana caranya menghancurkan martabat kaum wanita itu sendiri.
MUI dilecehkan, LSF mandul, pemerintah tak banyak bergerak. Siapa lagi yang bisa diandalkan?