#DropdownMenu { background:#ff6803; border-radius:6px; width: 880px; height: 35px; font-size: 12px; font-family: Arial, Tahoma, Verdana; color:#FFFFFF; font-weight: bold; margin-bottom: 30px; padding: 2px; } #Dropdownbox { width: 875px; border-radius:6px; float: left; margin: 0; padding: 0; } #strike { border-radius:6px; margin: 0; padding: 0; } #strike ul { border-radius:6px; float: left; list-style: none; margin: 0; padding: 0; } #strike li { border-radius:6px; list-style: none; margin: 0; padding: 0; } #strike li a, #strike li a:link, #strike li a:visited { border-radius:6px; color:#FFFFFF; display: block; font-size: 16px; font-family: Georgia, Times New Roman; font-weight: normal; margin: 0; padding: 9px 15px 8px; } #strike li a:hover, #strike li a:active { border-radius:6px; background:#FFFFFF; color:#ff6803; margin: 0; padding: 9px 15px 8px; text-decoration: none; } #strike li li a, #strike li li a:link, #strike li li a:visited { border-radius:6px; background:#ff6803; width: 150px; color:#FFFFFF; font-size: 14px; font-family: Georgia, Times New Roman; font-weight: normal; float: none; margin: 0; padding: 7px 10px; border-bottom: 1px solid #FFF; border-left: 1px solid #FFF; border-right: 1px solid #FFF; } #strike li li a:hover, #strike li li a:active { border-radius:6px; background:#FFFFFF; color:#ff6803; padding: 7px 10px; } #strike li { border-radius:6px; float: left; padding: 0; } #strike li ul { border-radius:6px; z-index: 9999; position: absolute; left: -999em; height: auto; width: 170px; margin: 0; padding: 0; } #strike li ul a { border-radius:6px; width: 140px; } #strike li ul ul { border-radius:6px; margin: -32px 0 0 171px; } #strike li:hover ul ul, #strike li:hover ul ul ul, #strike li.sfhover ul ul, #strike li.sfhover ul ul ul { border-radius:6px; left: -999em; } #strike li:hover ul, #strike li li:hover ul, #strike li li li:hover ul, #strike li.sfhover ul, #strike li li.sfhover ul, #strike li li li.sfhover ul { border-radius:6px; left: auto; } #strike li:hover, #strike li.sfhover { border-radius:6px; position: static; }

09 July 2019

Ke Ciledug Naik Sinar Jaya di 2019

Minggu (7/7) lalu, saya berkesempatan menggunakan Sinar Jaya. Sepengetahuan saya, Sinar Jaya adalah salah satu perusahaan transportasi umum paling sukses terutama di jalur Purbalingga-Jakarta. Kemarin itu, saya bermaksud ke rumah kakak ipar di Ciledug. Sinar Jaya punya banyak trayek, dan untungnya ada satu trayek yang sampai ke Ciledug, Tangerang, via Lebakbulus.

Tarifnya Rp 80.000,- per orang. Busnya AC - Ekonomi dengan formasi kursi 3-2. Jadi, cukup padat dan sesak. Bahkan, saat berada di pertengahan perjalanan saya menyaksikan sendiri sopirnya sampai memberhentikan busnya dan beranjak dari kursi untuk mengingatkan beberapa orang pendaki gunung yang ngobrol dengan suara yang terlalu keras. Setelah itu, suasana menjadi lebih tenang.

Kami berangkat pukul 16.30 WIB. Setelah menempuh sekitar satu jam lebih perjalanan, di sekitar Pemalang, bus berhenti di semacam Rest Area yang kemungkinan milik Sinar Jaya sendiri. Kami berhenti kurang lebih 45 menit untuk salat dan makan malam. Bus memasuki tol di sekitar daerah Tegal.

Sampai di gerbang tol Cikampek, sekitar pukul 00.30 WIB, kami memasuki stasiun pengisian bahan bakar, kemudian masuk tol lagi sampai mendekati Lebakbulus. Kami turun di perempatan Ciledug dekat CBD mall pada pukul 04.15 WIB.

Dari segi kondisi bus, AC-Ekonomi memang bukan yang terbaik. Armada Laksana tipe Legacy yang sudah cukup berumur menghasilkan bunyi-bunyian di setiap melewati jalan cor beton atau jalan jelek. Ada yang terlihat lebih nyaman dan armada yang lebih baru, tapi mungkin untuk kelas Eksekutif. Tapi ini salah satu yang termurah bagi yang ingin bepergian dari Purwokerto/Purbalingga ke Jakarta. Harga tiketnya bahkan sama dengan arah ke Yogya, yang jaraknya setengah kali lebih pendek. Banyak yang bilang, tiket ke "barat" lebih murah daripada ke "timur".

02 July 2019

Biaya Perbaikan Kaca Depan (Windshield) Aerio

Akhir Juni kemarin dapat musibah yang tidak terduga. Mobil Suzuki Aerionya menyeruduk truk yang terparkir. Posisi mobil yang terlalu dekat dengan truk membuat ruang untuk berbelok kurang banyak. Kaca sebelah kiri terkena pojok bak truk yang berbahan besi. Akibatnya, kaca retak dan body di atas ban kiri depan agak penyok.

Singkat cerita, mobil dibawa ke bengkel kenteng magic kenalan.

Rincian biayanya;
1. Perbaikan body: Rp 1.800.000,-
2. Kaca Depan Aerio Asahi Lamisafe (plus ongkos pasang): Rp 2.250.000,-
Total: Rp 4.050.000,-

Lokasi bengkel body di depan Kantor Maju Lancar
Sedangkan bengkel kaca ada di utara Gedung Pertemuan Taman Perwacy, dekag Ringroad. Namanya Bengkel Kaca Mobil Wening.

26 January 2019

Kondangan di Dua Tempat Berbeda

Hari ini, Sabtu, saya menghadiri hajatan resepsi pernikahan dari salah satu atasan istri saya. Bertiga bersama teman istri, kami menyewa Gocar. Jalanan sebenarnya cukup lancar. Hanya titik persimpangan Kentungan yang cukup membuat perjalanan kami menjadi bertambah lama. Saat ini, di persimpangan Kentungan memang sedang diadakan pengerjaan Underpass Kentungan.

Kami tiba di Grha Sarina Vidi sekitar pukul 14. Gedungnya dari luar sudah terlihat megah. Tersedianya parkir bawah tanah cukup mengesankan buat saya. Baru kali ini pergi kondangan ke tempat yang memiliki parkir di bawah tanah seperti gedung ini.

Untuk menuju ruang utama, harus menapaki beberapa anak tangga. Buku tamu tersedia di sebelah kiri dan kanan. Ruangan di dalam bisa dibilang sangat luas. Cukup untuk memuat ratusan orang. Mungkin saya salah menghitung, tapi bisa jadi bisa memuat sekitar 800 lebih. Tetapi dengan adanya berbagai hidangan dan panggung musik, mungkin jadi sedikit berkurang.

Langit-langitnya tinggi dan seluruh ruangan terjangkau AC, membuat siapapun di dalamnya tetap sejuk.

Besok saya juga menghadiri lagi resepsi di Museum Wayang Kekayon. Jujur saja, saya belum pernah merasa berada di dalam museum selama saya menghadiri hajatan pernikahan sebelumnya. Nampaknya, museum itu memang lama tidak terurus sehingga hanya digunakan sebagai tempat hajatan pernikahan saja.

Gedungnya memiliki halaman yang luas. Pohon rindang yang cukup banyak mengisi halaman. Saat malam, kegelapan menyelimuti halaman ini. Sebaliknya, di saat siang, nuansa sejuk sangat terasa.

02 June 2010

A Little (but Big) Country Named Israel




How could a country think that it is just okay to "fly at" a ship - which is clearly in humanitarian mission?
How could a country think that it is just okay to "fly at" a ship within international zone?
What was in there, in Mavi Marmara, that made Israel "flying at" her...?
and how could this world think that these facts are all just okay?

I am really not okay..!!

A country rushed an international ship and what other countries can do is only declaiming, urging "full investigation"..?

Why don't they do some realistic and concrete policies...

Many years Israel have been so rude to this world more than any other country ever be and nothing the world can do to them..... (and what is stranger is that there is still another country standing up to protect them..)

This time.. why isn't there any big man speaks as Mr Bush ever spoken..." Whether you are with us (the whole world) or with the terrorists..? (who are the terrorists..?? it has been clear for the last century..)

It is not our willing to hate Israel...
It is Israel, with their -always-controversial- acts that have always been making us hate Israel..
So don't blame us if the world hate Israel.. They themselves (Israel) are to blame...

Free Palestine, ........... Israel (fill in the blank yourself..)

-fadhlijauhari- 2 Juni 2010

http://www.facebook.com/home.php?#!/notes/mohamad-fadhli/a-little-but-big-country-named-israel/402785344482

12 January 2010

Suster Keramas.. kita kecolongan lagi..!!!




"Tapi di sana, dia main film drama juga. Di Jepang itu artisnya lebih profesional, mereka siap untuk main di film apa saja," ujar Odi Mulya Hidayat, pihak Maxima saat berbincang tentang artis Jepang yang terlibat di film Suster Keramas, dengan detikhot di Pasar Festival, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (15/12/2009).

Suster Keramas adalah film terbaru Maxima bergenre horor (dan xxx) yang sudah beredar sejak sekitar 1 pekan ini di Indonesia. Salah satu artisnya adalah seorang artis wanita dari Jepang, yang katanya pihak Maxima sih profesional, karena artis ini bisa "all-around", bermain di jenis film apapun, termasuk ....ehm .. ehm...

Yang menjadi sorotan adalah, apakah ada kaitannya, antara "artis profesional", dengan "siap untuk main di film apa saja"?

Yap, saya sih setuju aja. Artinya, yang namanya profesi, ya memang harus bisa diandalkan dalam bidangnya. Kalau artis, ya berakting.

Pemain sepak bola profesional, artinya harus siap untuk main di klub mana saja.
Guru profesional, artinya harus siap ngajar di sekolah mana saja.
Da'i profesional (kalau ada), berarti harus siap ceramah di mana saja.

Sayangnya, manusia tak memiliki batasan tentang "apa saja" itu. Mungkin kasusnya beda, karena da'i dan pemain sepak bola jelas punya koridor yang jelas dalam bekerja. Mereka punya seragam (tak mungkin da'i atau pemain sepakbola bekerja tak pakai baju, kan?), punya sasaran yang jelas (kalau da'i, memberikan yang terbaik demi ridha Allah - kalau pemain bola, memberikan yang terbaik bagi klubnya), dan aturan-aturan jelas lainnya.

Sementara kalau artis? Wah, artis yang profesional, tak punya batasan. Artis itu sendirilah yang menentukan batasannya. Jadi, kalau seorang artis menentukan batas, dia hanya mau main di film jenis ini saja, yang adegannya seperti ini saja, maka itulah batasannya. Tapi kalau dia tak memberikan batasan, entah dia mau berpakaian seperti apa (atau tak berpakaian sama sekali), beradegan seperti apa (bahkan mungkin sampai mencelakakan dirinya sendiri), itu mungkin juga namanya profesional, ya??

Inilah kekeliruan cara berpikir akibat zaman globalisasi.

Indonesia terus dirusak oleh budaya luar. Ketika kita menyebut kata globalisasi, pasti kita bilang, dunia yang melebur menjadi satu, tanpa batasan. Tapi ternyata tak sepenuhnya makna ini terwujud dalam kenyataan. Lihat sendiri, "dunia"nya siapa yang melebur tanpa batasan di seluruh penjuru bumi ini? Budayanya siapa yang ternyata "mendunia"? Amerika, Inggris, Jepang, bahkan negara-negara ketiga di Afrika dan Asia, budaya siapa yang ternyata mendunia?

Permasalahannya, bukan budaya siapa-nya itu.. Tetapi, budaya seperti apa yang sudah mendunia?

Masalahnya, budaya yang mendunia adalah yang membuat orang tanpa pakaian sehelai pun menjadi wajar saja dilakukan di depan layar kaca. Perkataan "telanjang" memang tak ada masalah. Tapi "telanjang di depan umum" yang dikatakan "wajar", sungguh masalah serius.

Ketika banyak orang tua dan LSM sosial+religius di Amerika menentang pornografi+pornoaksi di negara mereka, di Indonesia yang (dulunya) negara penuh nilai-nilai luhur ketimuran, justru sineasnya yang berjuang menegakkan pornografi+pornoaksi.

Ketika banyak wanita dan gerakan feminis lainnya menyerukan penghargaan terhadap martabat wanita, para kaum filmis Indonesia justru meminta seorang artis wanita luar negeri untuk mengajarkan kepada wanita Indonesia, bagaimana caranya menghancurkan martabat kaum wanita itu sendiri.

MUI dilecehkan, LSF mandul, pemerintah tak banyak bergerak. Siapa lagi yang bisa diandalkan?

22 October 2009

Berharap, boleh, kan? (mode: obrolan)

Berharap, boleh, kan?

Yap, boleh-boleh aja. Silakan. Semaumu, deh. Tapi ga boleh berlebihan, ya..

Kenapa?

Yaa, karena segala sesuatu yang berlebihan itu ga baik.

Misalnya?

Yang namanya berlebihan itu, biasanya awalannya “terlalu” atau imbuhannya “ke-an”.
Dan semuanya pasti ga baik. Terlalu rendah, terlalu tinggi, itu dua-duanya ga baik. Yang baik, ya yang pertengahan, yang pas. Terlalu gelap, terlalu terang, itu juga dua-duanya ga baik. Terlalu gemuk, terlalu kurus, terlalu banyak, terlalu sedikit. Kokehan (kebanyakan), kecepetan (terlalu terburu-buru), dll.

Tapi, gimana menentukan sesuatu itu dikatakan berlebihan? Kan, tiap orang pasti beda-beda ngukurnya...

Ada hal-hal yang udah punya nilai ukur secara jelas, dan ada pula yang nilai ukurnya diserahkan kepada manusia itu sendiri...

Makin ga jelas. Kasih contoh...

Misalnya, yang udah jelas ukurannya, ya seperti tingkat keislaman seseorang. Ada batasan kapan seseorang masih bisa dikatakan sebagai muslim, juga kapan dia dikatakan melanggar batasan itu sehingga dikatakan udah keluar dari Islam.
Atau dalam kesehatan, para ahli kesehatan udah punya ukuran angka yang mereka sepakati dalam menilai apakah seseorang itu terlalu gemuk, gemuk, normal, kurus, atau terlalu kurus.
Atau contoh dalam keseharian, kalau kita menyajikan minum untuk tamu, biasanya udah ada ukuran “tak tertulis” seberapa banyak air minum kita tuang dalam satu gelas. Walaupun tak pasti, tapi kita biasanya punya batasan, kapan air minum itu terlihat tampak terlalu banyak, atau sebaliknya, masih perlu kita tambah sedikit lagi.

Terus, yang ga bisa diukur?

Yang ga bisa diukur, ini sangat kuat hubungannya dengan perasaan. Sedih, marah, senang, tertawa, termasuk juga rasa benci dan cinta, semua sebenarnya ada batasan kapan itu dianggap masih wajar, kapan udah dinilai “terlalu” atau berlebihan.

Ya, berarti boleh, kan, berharap?

Yo boleh.. boleh banget.. itu wajar.. kita boleh memiliki perasaan apapun.. kita boleh memunculkan perasaan apapun.. Eit, tapi, tunggu dulu... Ini berharap sama siapa, nih?

Yah, masa nyebut nama orang, sih.. Ya malu, dong...

Bukan, maksudnya, berharapnya itu sama sesama manusia, atau sama Allah...?? Maksudnya, kalau kita berharap kasih sayang dari Allah, wah, itu malah wajib. Berharap ampunan, berharap masuk surga-Nya, berharap perlindungan dari siksa-Nya, itu wajib.

Mmm... ini berharap sama manusia, sih... Atau, kalau terus dibilang, berharap sama Allah agar bisa dekat dengan seseorang, itu boleh, ga?

Yaa, artinya, kita berharap sama Allah agar kita didekatkan dengan seseorang, begitu? Ya boleh aja.. Tapi, ya itu tadi, ga boleh berlebihan...

Terus, gimana caranya ngukur kita udah berlebihan atau belum selama kita berharap ini?

Perasaanmu yang lebih paham...

Maksudnya?

Rasa berharap ini munculnya dari hati, maka hati itulah yang seharusnya mengukur diri, sebanyak apa dia mesti mengeluarkan rasa berharapnya kepada seseorang.. Hati itu yang harus punya ukuran. Hatinyalah yang harus mengetahui batasan...

Batasan apa? Dari mana hati kita tahu ada batasan-batasan itu?

Hati itu ibarat logam. Dia bisa dibentuk sedemikian rupa kalau ditempa, diasah, diukir. Jika logam itu udah dibentuk jadi lurus, lalu diberi angka-angka, dia bisa jadi alat ukur yang baik.
Tak cuma mengukur, tapi juga menilai, karena hati manusia diberi bekal fitrah keimanan. Dia udah tahu apakah sesuatu itu baik atau buruk baginya, dengan hati yang fitrah keimanannya udah terasah.
Fitrah keimanan itulah yang mestinya diasah, sehingga hati kita paham batas-batas perasaan itu. Fitrah keimanan itu yang jadi penilai, apa hati kita masih dalam batas kewajaran mengharap sesuatu dan seseorang di dunia ini, atau udah kelewat berharap.
Hati yang masih bersih itu kayak timbangan berat badan yang masih bekerja dengan baik, angkanya kecetak jelas, dan hasil ukurnya akurat. Sedangkan iman yang terasah itu seperti sistem kesepakatan dokter ahli kesehatan yang memberitahukan apakah hasil timbangan berat badan itu berpengaruh baik atau buruk bagi pasien yang baru saja ditimbang.

Yodah.. yodah.. panjang banget penjelasannya.. Pokoknya, intinya, kesimpulannya, boleh berharap tapi ga berlebihan, gitu?

Ya, begitu.. O ya, temenku pernah bilang, tiga proses dasar dalam setiap usaha manusia: Doa, usaha, dan tawakkal...

Apa hubungannya sama rasa berharap?

Oow ada, tentu...Berharap itu mirip berdoa.. Karena pada dasarnya, berharap itu kan “jeritan hati”. Kita tentu “menjerit” karena ingin “didengar”... Iya, kan?

Iya, tapi kan berharapnya sama Allah, ga sama orangnya langsung.. Jadi, orangnya kan ga denger..

Bukan gitu.. Kan setidaknya, kalau kita ga ingin “didengar” siapapun, tapi kan Allah Maha Mendengar.. Itu berarti kita memanjatkan jeritan harapan itu sama Allah.. Kita secara ga langsung, berdoa kepada Allah, meminta agar jeritan hati ini Allah perhatikan..

Iya, sih... Terus, hubungannya dengan tiga itu tadi.. apaan?

Kalau kita cuma berharap saja, tanpa berusaha dan tawakkal, ya berarti ada yang keliru dengan cara kita berharap... Kita berharap untuk memiliki sesuatu atau seseorang yang SUDAH PASTI SELAMANYA (setidaknya selama hidup di dunia yang fana ini) bukan milik kita (karena segala sesuatu – dan seluruh manusia – adalah milik Allah)... artinya, hanya ada dua kemungkinan, kita dititipi atau dipinjami sesuatu/orang itu (ga mungkin diserahi), atau kita tidak dipinjami sama sekali... sampai di sini dulu, masih bisa dipahami?

Iya, masih..masih...

Nah, artinya lagi, bukan hak kita untuk menentukan hasil dari pengharapan kita selama ini... kita harus menyerahkan hasil pengharapan itu HANYA kepada Allah... kita harus siap dengan segala kemungkinan... karena pada prinsipnya, orang itu juga bukan milik kita.. kita ga boleh menuntutnya seolah dia itu kepunyaan kita pribadi... dia milik Allah... dan Allah yang Maha Kuasa menentukan jalan hidupnya... dan jalan hidup kita tentunya...
Makanya tadi dijelaskan, rasa berharap itu jangan sampai berlebihan...
Kalau rasa berharap itu muncul karena cinta yang berlebihan, wajib bagi kita untuk menahan, mengurangi, syukur-syukur menetralkan..

Ha? Menetralkan? Enak banget bilangnya....!!

Menetralkan dengan menghilangkan itu kan beda.. Mengerikan kalau rasa cinta hilang dari hati manusia, bisa saling caci maki bahkan bunuh membunuh.. Menetralkan berarti kita memberikan rasa cinta SAMA seperti kita memberikannya kepada orang lain, kepada sahabat kita, saudara kita, tanpa ada pembedaan, tanpa pengkhususan, atau pengistimewaan.

Berarti salah dong, selama ini... Kayanya rasa berharap ini terlalu berlebihan... terlalu menuntut... Mosok bisa dikurangi, sih? Susah, laah...

Perasaan yang muncul dalam hati itu seperti tanaman yang muncul dari tanah... Baik itu marah, sedih, gembira, cinta, benci, semua bisa tumbuh dan dipelihara di dalam hati, seperti halnya semua tanaman bisa dikembangbiakkan dari tanah.
Ketika kita diusili orang lain, bibit kemarahan muncul dari dalam hati. Tapi untuk menyuburkan, memupuk, dan menumbuhkannya menjadi pohon kemarahan yang besar, itu adalah pilihan. Kita, kan bisa saja tidak memupuknya, tidak memperdulikannya, atau malah segera mencabut dan membuang bibit amarah itu dari hati kita. Itu terserah kita. Kita bisa saja menuruti amarah kita dengan membuatnya mewujud jadi nyata, misalnya tangan kita jadi entengan (alias mukul atau ngapain yang mengekspresikan kemarahan). Atau sebaliknya, kita pendam dan kubur perasaan amarah itu dalam-dalam, sambil menyadari, misalnya, kadang-kadang kita juga sering bikin orang itu marah.

Lha kalau rasa cinta, rasa rindu? Gimana? Masa kita kubur.. Emangnya mayat? Salah, ya?

Bukan rasa cinta atau rindunya yang kita salahkan.. Tapi waktu munculnya yang ga tepat. Kita rindu dan cinta sama orang yang statusnya masih haram buat kita.. Ingat, HANYA pernikahan yang disebut sebagai hubungan yang halal antara dua orang laki perempuan bukan mahram. Bukan tunangan, karena mereka belumlah benar-benar resmi menikah. Apalagi pacaran... Sori baen, lah, yaw... semua ini status hubungan yang salah kaprah, yang kebanjur udah menjamur di dunia, akibat cekokan budaya serba bebas dan serba semau diri sendiri ala barat.. Rasa cinta jadi barang murahan, ga beda sama nafsu hewani.

Sementara, kalau udah nikah, rasa cinta dan rindu itu bisa saling dipamerkan karena memang mereka udah halal satu sama lain. Pernikahan. Cuma itu bingkai yang halal bagi dua orang berlawanan jenis dan bukan mahram satu sama lain. Soalnya, memang dengan wadah mangkok bernama pernikahan, dua makhluk beda setrum bisa secara puas saling setrum-setruman. Halal, dan berpahala pula. Entah itu bentuk setrumannya berupa canda, tawa, bujuk, rayu, dan sebagainya yang sifatnya nyetrum, lah...

Ya, aku ga pacaran, koq...

Iya, bukan masalah pacaran atau ga. Masalahnya, bibit cinta tertanam dalam hati kita pada waktu yang salah, tapi kita malah menyuburkannya.. Kita memupuknya.. Kita menghiasi tanaman cinta itu.. Akhirnya, kita malah bangga dengan tanaman cinta yang sedemikian indah itu.. Semua itu kita lakukan di saat dia belum halal menjadi milik pribadi ini... Perasaan berharap itu kita lebih-lebihkan ketika dia belum tentu menjadi titipan yang Allah serahkan bagi kita...
Yang bikin tanaman itu makin membesar, adalah kita membiarkan lingkungan di sekitarnya semakin mendukung.. Kitalah yang membawa tanaman itu ke lingkungan yang cocok.. Matahari yang cerah, curah hujan yang berkecukupan, dan berbagai faktor penyubur lainnya.

Hwaduh.. Ga ngerti, ah...

Maksudnya, kamu suburkan perasaan di dalam hatimu dengan perbuatan yang kamu lakukan selama ini. Kamu sms dia setiap hari, kamu telepon, bahkan kalau smsmu ga dia balas, kamu kirimi pulsa segala.. Belum lagi lingkungan di sekitarmu yang terus mengobarkan rasa berharapmu kepada orang itu.. Kamu putar lagu-lagu cinta.. Kamu tonton sinetron-sinetron berkisah asmara.. Kamu sendiri yang menyuburkan perasaan itu...

Yaa, gimana lagi? Ga bisa dihindari, kan...

Tentu bisa.. Kan sudah dijelaskan, ini semua pilihan... Ada pendukung kesuburan, maka ada penghambat kesuburan... Carilah penghambat kesuburan itu..
Kurangi interaksimu dengannya, terus kurangi sampai perasaanmu mengatakan ga ada perlunya lagi untuk berkomunikasi dengannya. Karena sesungguhnya, kalaupun ada, itu bukan keperluan. Itu cuma alasan dari seribu alasan yang syetan bisikkan ke dalam hati.
Kurangi juga mendengarkan lagu dan menonton film yang bisa mengembalikan banjirnya perasaan berharap itu. Karena yang demikian juga salah satu wujud bisikan syetan. Ini semua tergantung wujud usaha keras dari pilihan yang kita ambil.
Kata temanku lagi, kalau ada kemauan, pasti ada seribu jalan. Kalau ga ada kemauan, pasti ada seribu alasan.

Kebaikan atau keburukan hidup kita ga tergantung sama orang itu. Tidak mesti tanpa orang itu di sisi kita, hidup kita akan menjadi lebih buruk. Tidak mesti pula dengannya di sisi kita, hidup akan menjadi lebih baik. Allah lebih Mengetahui apa-apa yang tidak kelihatan dari sisi hidup kita, dan Maha Bijaksana dengan segala ketetapan-Nya.

"Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa (tidak ada yang bisa menghalangi ketetapan-Nya kalau sudah berlaku) lagi Maha Bijaksana (di balik ketetapan-Nya)". (QS 8: 49, lihat juga QS 9: 59)

Kalau memang orang itu ditetapkan bagimu, itulah ketetapan dari Allah yang Maha Bijaksana. Kalau dia ga ditetapkan untukmu, itu juga ketetapan dari-Nya. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Bijaksana.

...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS 2: 216)

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta dipilihkan dengan ilmu pengetahuan-Mu dan aku mohon kekuasaan-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau Mengetahui, sedang aku tidak mengetahui, dan Engkau Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau Mengetahui bahwa urusan ini (menyebutkan persoalannya) lebih baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akibatnya terhadap diriku - atau - Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: …di dunia atau akhirat – maka tetapkanlah pilihan ini untukku, mudahkan jalannya, kemudian berkahilah pilihan ini. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa pilihan ini buruk bagiku, dalam agama, kehidupan, dan akibatnya kepada diriku, maka jauhkan pilihan ini dariku, dan jauhkan aku darinya, takdirkan yang terbaik bagiku di manapun itu, kemudian Ridhoilah aku di dalamnya.”

Amiin...

Yogyakarta, 21 Oktober 2009, 01.00 WIB
-fadhlijawharie-

21 June 2009

Penting vs Ga Penting

Satu hal yang menjadi kelebihan manusia dibandingkan makhluk lain adalah, mereka diberikan kemampuan untuk memilih. Tidak seperti hewan, atau malaikat, tumbuhan, atau alam semesta ini, yang kesemuanya selalu tunduk pada ketentuan Allah yang kauniyah.

Sementara itu, manusia (beserta jin) begitu istimewa. Mereka diberikan banyak pilihan pada setiap bagian hidupnya.

Inilah yang membuat kita diganjar. Ada balasan kebaikan yang berlipat untuk yang bisa memilih secara tepat. Dan tidak hanya memilih, tetapi juga melaksanakan konsekuensi dari pilihan itu. Sebaliknya, ada balasan kejahatan yang setimpal bagi mereka yang memilih secara sembrono tanpa perhitungan matang sehingga terjerumus dalam lingkaran setan tanpa ujung.

Hiduplah berjamaah, jangan sendirian. Karena setidaknya, kita perlu pertimbangan dari orang-orang terdekat. Kita perlu pandangan bijak dari mereka yang lebih berakal.

Setan akan selalu menggoda kita dengan pilihan-pilihan yang membingungkan. Kalau hati kita cenderung menginginkan serba mudah, serba cepat, maka itulah hati yang jadi sasaran empuk godaan setan. Kalaulah yang serba mudah dan cepat itu pilihan yang tepat, tak mungkin Allah mengirimkan begitu banyak ujian bagi manusia-manusia pilihan-Nya, para Nabi dan Rasul.

Ada uang, ada barang...

Tak mau kerja, mana bisa dapat upah...

Surga dipenuhi rintangan, Neraka dihiasi kesenangan.

05 June 2009

Pembelajar Abadi

Sejak pertama kali bikin akun di Friendster, sudah kucanangkan dengan tegas melalui profilku, bahwa aku adalah 'lifetime student', pembelajar seumur hidup.

(Terus, kenapa?)

Aku sedang merasa ingin menuliskan saja satu ungkapan yang baru kudapat akhir-akhir ini. Aku merasa ingin membagikannya di sini, lalu semua orang bisa membacanya.

Ungkapan itu adalah

"Bersikaplah keras terhadap dirimu sendiri, maka dunia akan lembut kepadamu.
Bersikap lembutlah dengan diri sendiri, maka dunia akan terasa keras bagimu."

Keras di sini tentu bukan dalam taraf yang berlebihan. Artinya, kita memang harus berjuang keras dalam hidup. Istilah kerennya, jihad, mujahadah..

Karena memang, untuk mendapatkan surga, itulah harga yang pantas....

Met bekerja keras..!

24 March 2009

Manajemen Waktu

Dulu, ketika aku masih hanya berstatus mahasiswa tulen, waktuku selalu surplus. Tak pernah kurang. Selalu menyisakan waktu. Berangkat kuliah, pulang ke kos. Sudah... Apalagi?

Tapi sekarang, semenjak aku "berubah", waktu serasa mendesakku begitu keras. Seolah-olah aku berada di antara dua dinding yang terus menerus menyempit secara perlahan menuju ke arahku.

Dulu aku sudah berusaha mencatat setiap rencanaku dalam sebuah buku kecil. Alhamdulillah, sedikit lebih tertata. Tapi sekarang, aku seakan terlalu sibuk untuk hanya sekedar mencatatkan agenda-agendaku di dalam buku kecil itu. Aku kembali kelelahan. Aku serasa telah mengecewakan banyak orang dengan melanggar waktuku sendiri. Bahkan aku telah mengecewakan diriku sendiri, karena aku tak mampu memenuhi hak-hakku sendiri dengan baik.

Ya Allah.. bantulah aku.. bantulah hamba-Mu.. aku lemah tanpa-Mu..
Kubersujud pada-Mu.. setelah itu, kuharap Rahmat-Mu, menyapa sejuk harap cemasku..

22 February 2009

Wanita, dan Pria

Selalu, dan selalu, wanita menjadi sorotan bagi banyak manusia di muka bumi. Sebagai makhluk yang diistimewakan Allah, sungguh wanita paling pantas untuk mendapatkan perhatian. Justru ketika kita mengabaikan mereka, tidak memperdulikan apa yang mereka lakukan di muka bumi ini, maka saat itu kita seolah menganggap mereka benda mati, atau malah mungkin lebih buruk dari itu, benda mati yang diperjualbelikan.

Wanita dan pria adalah sama sebagai makhluk, diciptakan oleh Allah. Tapi sebagai manusia, mereka diciptakan berbeda satu dengan yang lain. Karakter jasmani dan rohani sudah ditakdirkan tidak sama. Wanita telah dimaklumkan sebagai makhluk yang indah, lembut, dan setiap titik tubuhnya memiliki nilai keindahan yang sangat tinggi, tidak hanya bagi setiap pria yang memandangnya, tapi bahkan manusia secara umum. Sebaliknya, pria lekat dengan kesan kuat, tegas, dan setiap titik tubuhnya tidak terlalu diperhatikan secara mendalam oleh lawan jenisnya.

Memperhatikan pria biasa dengan berbaju lengkap, rasanya berbeda dengan memperhatikan wanita biasa berbaju lengkap. Seorang pria, normalnya, akan tetap mudah terdorong untuk "berimajinasi" terhadap wanita biasa, dibandingkan seorang wanita yang menatap pria biasa, yang tidak akan terlalu menimbulkan minat untuk berimajinasi. Ini adalah salah satu karakter fitrah yang sudah ditetapkan secara abadi dalam penciptaan pria dan wanita. Itulah hikmah dari mengapa aurat wanita lebih menutup, karena memang ini mencegah wanita dari musibah besar, dari imajinasi pria-pria, yang mereka tak akan pernah tahu seperti apa buruknya.

Wanita, di satu sisi, diuji dengan hasrat untuk memperindah dan mempercantik diri. Di sisi lain, pria juga diciptakan sangat mudah tertarik dengan kecantikan seorang wanita. Maka, Islam menyelamatkan keduanya dengan aturan yang sangat indah, yang betul-betul penuh perhitungan, asli dari Pencipta manusia secara langsung. Aturan tentang aurat ini juga sebenarnya lebih sesuai dengan fitrah semua makhluk Allah yang dituntut untuk terus berketurunan. Hanya suami yang sah-lah yang boleh dijadikan sasaran kecantikan wanita. Di hadapan suami, wanita boleh menampilkan kecantikan sejatinya. Karena, kecantikan wanita dan kekuatan pria memang dijadikan Allah sebagai faktor pendukung mereka dalam berketurunan. Seandainya wanita tidak diciptakan untuk selalu tampak indah di hadapan pria, lalu dengan apa seorang pria bisa tertarik kepada wanita? Dengan apa manusia bisa lestari sampai sekarang, kalau bukan salah satunya karena wanita diciptakan cantik, dan pria mencintai kecantikan ini?

Wanita dan pria diciptakan seperti binatang yang memiliki nafsu biologis. Mereka bisa saja seperti ayam, yang bebas memilih pasangan, lalu "berbuat" semau mereka. Namun, Allah juga telah menanamkan rasa cinta, rasa cemburu, rasa sayang, rasa ingin memiliki, rasa malu, rasa bersosial, yang bedanya sungguh terasa dengan binatang. Ini yang kemudian Allah bungkus secara indah dalam aturan pernikahan. Seorang pria tak akan pernah rela wanita yang ia sayangi, cintai, atau bahkan hanya tingkat 'disukai', tiba-tiba begitu dekat dengan pria lain, begitu pula sebaliknya. Maka, hubungan antara dua manusia berlawanan jenis, selain pernikahan, sudah semestinya memang diharamkan karena hal-hal di atas tadi. Pernikahan membuat pria dan wanita saling terikat satu sama lain, sebagai komitmen mereka untuk saling mencintai, lebih luas lagi dalam kerangka beribadah kepada Allah.

Wanita dan pria adalah manusia yang tetap berbeda satu sama lain, diciptakan untuk saling bersama, melengkapi satu sama lain. Selain itu, mereka tetaplah sama sebagai makhluk Allah, yang diciptakan sangat rapuh dan lemah, sehingga butuh untuk beribadah kepada-Nya.

Sekiranya, dan sepertinya, penjelasan ini kurang memuaskan, bisa kita cari sendiri tambahannya melalui sumber-sumber lain yang lebih baik. Semoga bermanfaat...

Hasbunallah wa ni'mal wakiil..

09 February 2009

Hidup itu Keniscayaan, Berusaha adalah Pilihan

Sungguhpun Allah telah Membuat segalanya menjadi jelas bagi manusia, ternyata tetaplah sulit untuk menjalani hidup. Perlu begitu keras dalam usaha untuk mewujudkan hidup yang bahagia.

Di masa peralihan ini, diriku merasa berdiri di satu puncak gunung yang hanya bisa memuat dua tapak kaki kecilku saja, sedangkan angin menerpaku ke sana kemari. Aku lemah. Terombang-ambing. Tinggal menunggu waktu saja bagiku untuk jatuh. Dan aku harus berusaha untuk jatuh ke sisi yang tepat. Di bawah sana. Akankah?

Aku berada dalam bimbang. Sekarang usiaku baru (atau sudah) 22 tahun lebih sedikit. Sudah 4 tahun lebih aku kuliah. Skripsi sudah menunggu untuk dirampungkan. Kakak menunggu pertanggungjawabanku sebagai seorang anak yang berbakti kepada ibu. Kakakku tidak mau aku merepotkan ibu yang seorang diri terus menerus. Aku ingin cepat-cepat mandiri.

Di sisi lain, aku masih ingin menimba ilmu. Kecintaanku terhadap ilmu sungguh tak tertahankan. Bahkan aku sebenarnya telah berniat melanjutkan pendidikanku. Aku ingin menjadi seorang da'i, seperti almarhum bapak. Aku ingin mengubah keluargaku, teman-temanku. Dan untuk bisa mengubah mereka, aku harus mengubah diriku terlebih dulu. Itulah kenapa aku masih ingin nyantri lagi. Entah di pondok pesantren, atau kuliah jurusan agama.

Godaan untuk menikah pun sekarang mulai muncul, menyeruak menandingi keinginan kemandirianku. Aku ingin menyelamatkan diriku sendiri dari dunia ini. Aku tak mau pandanganku terus-terusan tertuju kepada hal-hal yang haram. Sesuatu harus dilakukan. Entah itu terhadap dunia ini, atau terhadap diriku yang melawan dunia. Aku tak punya kecenderungan terhadap seseorang. Aku hanya mencintai mereka yang mencintai Allah. Siapapun orangnya. Dia berhak menjadi pendampingku.

Suatu saat kematian menjemputku, aku ingin diriku telah menjadi 'seseorang' bagi dunia ini. Aku ingin setidaknya meninggalkan jejak bagi tanah tempat diri ini menginjakkan kaki. Aku ingin Allah menyambutku. Aku ingin berada dengan Muhammad shalallaahu 'alaihi wasallam. Karena, pada dasarnya aku telah berubah. Berubah menjadi lebih baik. Dan itu karena Allah dan Rasul-Nya.

Allah... Robbi habli hukmaw wa alhiqni bish sholihiin, waj 'allii lisaana sidqin fil aakhiriin, waj 'alnii miw warosati jannatin na'iim...

Hidup ini hanya sementara, dan kita akan kembali pada-Nya..

Tetaplah bertaqwa, Fadhli..

09 January 2009

Manusia= Binatang + Akal

Kalau kita bicara manusia hanya dengan fisik dan nafsunya saja, tanpa melibatkan yang lain, bisa dibilang itulah wujud hewan paling sempurna (menurut saya). Dan bagaimanapun, memang manusia itu binatang (karena itu, digolongkan dalam Primata). Yang membedakan adalah manusia dikarunia akal. Itulah puncak Kasih Sayang dari Allah, Pencipta manusia..

Maka, sudah sepatutnya kita tidak terlalu cenderung kepada tubuh kita. Kita tidak layak menempatkan fisik sebagai prioritas pertama dan segala-galanya. Kita harus seimbang, antara fisik, mental, dan tentu saja, hati.

Tapi, kenyataannya, berjuta-juta orang sekarang sedang mengalami kelalaian super dahsyat. Akibat media massa yang juga terus membombardir dengan iklan-iklan pemuas kebutuhan fisikal, manusia menjadi terlalu condong memanjakan tubuh.

Maka, hari ini, lahirlah pria-pria pesolek. Mereka mempertontonkan tubuh, berkaos ketat, lalu berjalan di jalanan. Mereka bangga ketika orang-orang memandang. Sebaliknya, orang lain pun merasa takjub, kagum, sekaligus kemudian menjadi iri.

Lahirlah juga wanita-wanita pesolek. Mereka berkaos ketat. Berbaju mini. Betis-betis mulus diperlihatkan. Belahan dada tak malu dipamerkan. Cara berjalan pun dibuat semenarik mungkin. Tak heran, kalau sekarang juga banyak penyanyi-penyanyi yang betul-betul memanfaatkan modal tubuh dan suara untuk "menjual diri". Mereka berbusana "waaah.." dan bersuara "[tanpa huruf 'w', tak beda jauh]". Sangat tipis bedanya dengan pelacur.

Televisi, majalah, radio, tak henti-hentinya merayu manusia untuk mempercantik-memperganteng diri..

Tidakkah mereka sadar? renungkan sejenak.. mereka tak ubahnya seperti binatang.. tak punya akal.. yang dipunya hanya hawa nafsu.. dengan tubuh mereka, mereka saling berlomba menjadi yang paling menarik di dalam kelompok sesama jenisnya.. dan berlomba mendapatkan perhatian sebesar-besarnya dari lawan jenisnya.. tidakkah itu mirip binatang.. sampai-sampai akal kalah oleh nafsu.. sehingga nafsu bisa menaklukkan akal.. nafsu telah memaksa akal untuk berpikir keras bagaimana cara memuaskan kebutuhan tubuh ini..

Sungguh, tidak ada salahnya memperbagus diri. Yang salah adalah ketika memperbagus diri itu membuat kita menjadi terlihat ‘hina’ dan ‘murah’ di Mata Allah. Kita salah menempatkan untuk siapa kita memperbagus diri…Kita bukan binatang biasa. Sadarlah.. Kita punya akal.. Kita punya hati nurani.. Sungguh, mereka yang lalai benar-benar telah dimatikan hatinya oleh Allah.. Jangan sampai kita seperti itu.. Hanya kepada Allahlah kita semua akan kembali.. Dan kita akan bertanggung jawab atas semuanya..

27 December 2008

Doaku...


Allah, aku ternyata lemah.. aku tak berdaya tanpa-Mu...

ternyata memang benar... bahwa tidak ada yang bisa merubah seseorang, melainkan orang itu sendiri.. dan aku merasakan susahnya merubah diri sendiri ini..

padahal aku pikir, aku sudah merubah banyak hal, aku sudah banyak mencari ilmu, aku sudah bergabung dengan banyak organisasi untuk membuka diriku lebih lebar, namun ternyata aku belum benar-benar berubah..

sungguh, ilmu yang selama ini kudapat memang belum banyak.. tapi sebenarnya, aku sadar, yang lebih penting adalah mengamalkan ilmu-ilmu itu sendiri.... kemauan untuk mengamalkan itulah yang lebih penting... kemauan untuk berubah itulah yang lebih penting.. tekad untuk berubah itulah yang seharusnya selalu ada dalam diri ini..

bukan banyak ilmu yang kudapat, bukan banyak tulisan yang kubuat, bukan pula banyak teman yang kuperoleh...

'azzam (kemauan) dan dawwam (konsisten) dalam memperbaiki diri harus terus dijaga..

ya Allah, kuatkan hatiku.. teguhkan hati ini di dalam Islam..

amin...

22 November 2008

Dunia vs Akhirat

Yaa, saya kan orang bahasa, jadi sukanya ngutak-atik kalimat orang...

Ada yang bilang kehidupan ini harus ter'kotomisasi'kan, entah itu di- atau tri-. Mereka berpendapat bahwa hidup ini harus terbagi rata... Sebagian untuk dunia, sebagian untuk akhirat, begitu...

Secara lahiriah, iya, memang begitu.. Secara dzohir, memang Allah memerintahkan kita untuk mencari bagian akhirat kita, tanpa melupakan bagian dunia kita. Kita punya bagian untuk diri sendiri, untuk keluarga, dan untuk Allah...

Tetapi, secara batiniah, pada hakikatnya, sesungguhnya hidup ini hanyalah untuk akhirat semata.. Semua tindakan kita sebenarnya orientasinya adalah akhirat. Kita kuliah untuk menuntut ilmu, sebagai wujud syukur telah dikaruniai kemampuan berpikir (=ibadah). Juga sebagai wujud bakti kita kepada orang tua yang telah mendidik dan menafkahi kita (=ibadah). Kita ngenet pun juga akan dipertanggungjawabkan. Kita tidur pun bisa bernilai ibadah, atau dosa. Artinya, setiap amal kita bisa berpahala, atau sebaliknya, mengundang murka-Nya.

Wa maa kholaqtul jinnaa wal insaa illaa liya'buduun..

Siswa yang menuntut ilmu, ibu yang mengurusi rumah tangga, bapak yang pergi mencari nafkah, pada esensinya sebenarnya sebagai bentuk pengabdian mereka kepada yang telah menciptakan mereka dengan berbagai potensi kemanusiaannya...

So, niatkan setiap detik kita untuk beribadah, berbuat kebaikan. Hidup di dunia ini memang kendaraan. Kendaraan kita untuk beribadah, secara total.

Karena akhirat lebih abadi...

29 October 2008

Cinta tak Berbalas

Betapa Allah telah Mencintai manusia dengan begitu sempurna. Tiap detail kehidupan dari milyaran manusia - beserta trilyunan makhluk ciptaan-Nya yang lain - telah Ia Atur dengan begitu baik dan penuh pelajaran. Tapi sedikit sekali dari kita yang mau berpikir dan akhirnya mensyukuri kehidupan ini.

Betapa kita telah menyia-nyiakan sholat kita, kita anggap sholat kita sekedar kewajiban yang harus segera ditunaikan. Tidak lebih dari itu...

Dan banyak hal lain dari Sisi-Nya yang kita remehkan, sementara kita malah terlalu mencintai dunia ini, yang pasti akan musnah, yang pasti tidak akan pernah kita miliki untuk selamanya.

Ya Allah, mampukan diriku untuk selalu lebih mencintai-Mu dari detik ke detik. Engkau telah banyak Mencintaiku, tapi aku sepertinya masih kurang sempurna membalas.

23 October 2008

Kaum atheis terus kampanye anti tuhan

Perjuangan kaum atheis untuk mengampanyekan anti-Tuhan terus dilakukan. Kabar terbaru, sekelompok kaum atheis di Inggris akan membeli puluhan badan bus yang beroperasi di Kota London untuk dipasangi iklan anti-Tuhan.

Koordinator kelompok itu telah mengumpulkan dana dengan memasang iklan di sebuah situs amal. Hasilnya luar biasa. Hanya dalam beberapa jam sejak iklan itu dimuat, mereka mengumpulkan dana 70.000 poundsterling (sekitar Rp 1,2 miliar). Itu tujuh kali lipat dari target semula. Para donatur, termasuk pakar biologi asal Oxford University, Richards Dawkins, yang mendonasikan dana 5.500 poundsterling.

Selanjutnya, dana itu akan digunakan untuk memasang poster-poster di 30 bus berwarna merah di London dengan slogan "Mungkin tidak ada Tuhan. Kini berhentilah mencemaskan diri dan menikmati hidup Anda."

Iklan itu akan diluncurkan selama empat pekan mulai Januari 2009. Namun, dengan banyaknya dana terkumpul, bisa jadi iklan akan diperpanjang. "Banyak orang mengatakan, mereka berusaha mengendalikan atheis seperti menggiring sekumpulan kucing. Dalam beberapa hari terakhir menunjukkan itu tidak benar," kata penulis komedi Ariane Sherine mengawali kampanye, Rabu (22/10).

Umumnya bus-bus di London membawakan poster iklan bagi supermarket atau film Hollywood. Namun, sejumlah kelompok keagamaan mulai memanfatkan wahana iklan itu dalam beberapa waktu lalu. Sejumlah gereja Kristen dan kelompok Muslim memasang poster berisi seruan beragama.

Rupanya Sherine dkk jengah dengan upaya mereka. Sherine geram setelah menyaksikan serangkian poster kaum Kristen di sejumlah bus awal tahun ini. Di sana disebutkan bahwa kaum atheis akan kekal dalam siksaan di neraka.

"Saya kira akan menjadi hal positif menandinginya. Jangan cemas, Anda tidak akan masuk neraka," kata Sherine (28). "Kaum atheis yakin ini satu-satunya hidup yang kami miliki dan kami seharusnya menikmatinya."

Asosiasi Humanis Inggris, kelompok yang mengoordinasikan pengumpulan dana iklan anti-Tuhan, mengatakan, kampanye mereka berjalan sukses. Mereka bahkan merencanakan menggelar kampanye serupa di Kota Manchester dan Edinburgh.


ONO
Sumber : AP

10 October 2008

Allah Maha Menutupi Aib

Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Meliputi segala sesuatu.. Engkaulah Yang Maha Menutupi aib.. maka tutuplah aibku.. sungguh seandainya aibku Engkau tampakkan, aku ragu apakah aku masih mau hidup dan memperlihatkan diriku di hadapan manusia, apalagi di Hadapan-Mu, ya Allah..

Jangan pernah lelah mengampuniku..

Astaghfirullah..

Astaghfirullah..

Astaghfirullah..

Hindarkan aku dari syirik yang tampak maupun yang tersembunyi..
jauhkan aku dari menzholimi dan dizholimi orang lain..
jauhkan aku dari kekufuran dan kefakiran..

Engkau Maha Mendengar, maka kabulkanlah doa hamba-Mu yang lemah dan hina ini...

Amin...

09 September 2008

The Danger of Partial Comprehension (in Everything)

I am a Muslim, and it has become my responsibility to tell everyone the truth about Islam since I know, I see, I hear, and I feel everything inside Islam by myself.

It's very sad that many people outside (even inside Islam; Muslim) have a misconception about Islam. You know, terrorist, violence, abuse, etc (and you can add yourself).

When you are shown, for example, a pizza, do you judge it before you eat it? Or you try eating it first, and then you judge it?

Or, if you eat that pizza, do you look carefully at what you want to eat? Or you just take 'something' from the pizza into your mouth?

Or maybe there's someone giving that pizza's stuff, and you just swallow it without checking: what stuff given to you is, and who (the man) giving it is..

Why, it's important, friend!

Let's think carefully, what so far we have been thinking about Islam?

Partial, incomplete, or whatever it's called, is really dangerous when we want to understand something (and also someone).

We need to take a complete comprehension.

Don't judge a book by its cover. Judge it by its cover+content+author....

Let's learn Islam wholly, wisely, correctly, objectively...

Ukuran kebenaran suatu informasi

Wah, susah..

Semakin modern suatu peradaban, semakin mudah segala sesuatunya direkayasa sehingga kebenaran menjadi kabur. Banyak yang tidak mampu mendapatkan kebenaran yang sesungguhnya..

Ketika orang-orang semakin tidak karuan, semakin merindukan kebenaran, menginginkan kebahagiaan, mereka justru tidak mampu mendapatkannya. Ini dikarenakan setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam kecerdasannya.

Kalau kita memakan suatu hidangan, tapi yang kita ambil misalnya ternyata hanya cabe rawitnya saja, maka yang akan terasa adalah pedas. Sebaliknya, kalau yang kita ambil melulu dagingnya saja, maka yang terasa juga nikmatnya saja. Pemahaman yang menyeluruh akan jauh lebih membuat kita mengerti. Pemahaman yang secuil-secuil saja adalah sangat berbahaya. Kita tidak mampu dan mau membedakan mana yang perlu dipahami, mana yang masih perlu dicari pendalamannya, dan mana yang tidak perlu disentuh sama sekali.

Pandangan yang luas, tidak sempit, akan memberikan kita banyak ruang untuk bernafas lega. Prasangka-prasangka yang mendahului pikiran hanya akan semakin memperburuk dan mempersempit ruang gerak kita.

Carilah kebenaran dengan cara yang benar. Dengan pandangan yang lebih lega. Bukan dari satu sisi saja, apalagi sisi itu ternyata sisi yang keliru.

Apakah engkau akan bertanya tentang televisimu yang rusak kepada seorang juru masak??

04 September 2008

Met Puasa

1 bulan pencarian bekal telah dimulai...
manfaatkan 1 bulan ini untuk bekal 11 bulan perjalanan yg penuh perjuangan..!!

met puasa,,!!

Ke Ciledug Naik Sinar Jaya di 2019

Minggu (7/7) lalu, saya berkesempatan menggunakan Sinar Jaya . Sepengetahuan saya, Sinar Jaya adalah salah satu perusahaan transportasi umum...